Jumat, 12 Oktober 2012

Refleksi Ketiga



Refleksi Ketigaku

Ada bermacam-macam aliran dalam filsafat. Aliran filsafat diberi nama tergantung dari objeknya,nama tokohnya, sifat bendanya, dan aktivitasnya.  Aliran filsafat yang diberi nama berdasar dari objeknya adalah filsafat alam karena objeknya adalah alam. Aliran yang  sesuai dengan tokohnya yakni Hegelianism adalah tokoh yang mengatakan yang ada dan yang mungkin ada adalah sejarah. Benda dalam  pikiran adalah ideal sehingga filsafatnya bernama idealism. Dialektisism adalah filsafat dari bertanya. Monoisme adalah Tuhan karena yang benar adalah satu hanyalah Tuhan. Pluralism adalah filsafat terkait benda-benda yang banyak. Dualism adalah filsafat untuk yang benar adalah dua. Dualism sering ditemui dalam masyarakat Indonesia yakni meliputi benar-salah, baik-buruk, dan lain-lain. Aliran objektivisme adalah kebenaran yang berasal dari objeknya. Lawan dari objektivisme yakni subjektivisme. Subjektivisme adalah filsafat kebenaran yang berasal dari diri sendiri.
Manusia selalu menentukan apapun dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menentukan baju yang ia pakai, menentukan apa yang akan dimakannya, memikirkan sesuatu, dan lain-lain adalah contoh dari determinasi. Determinasi sejalan dengan reduksi. Reduksi adalah pengurangan. Determinasi dan reduksi adalah sesuatu yang sangat ampuh. Dua hal ini selalu berjalan beriringan dan tidak dapat terpisahkan. Seorang mahasiswa memilih untuk menatap dan memperhatikan dosen yang sedang mengajarnya. Di lain sisi,  ia kehilangan kesempatan untuk menatap dan memandang objek lain. Ia melaksanakan determinasi sekaligus reduksi. Dalam perkuliahan filsafat pun, mahasiswa melaksanakan reduksi dan determinasi. Mahasiswa bersama-sama dengan dosen mencari kebenaran dalam filsafat. Mahasiswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berefleksi. Mahasiswa juga diberikan fasilitas berfilsafat yakni dengan membaca elegi-elegi. Elegi-elegi membantu mahasiswa untuk berinteraksi dengan filsafat. Filsafat menggunakan metode hidup sehingga mahasiswa harus membaca elegi secara berkelanjutan dan terus-menerus. Mahasiswa berinteraksi terus-menerus dengan elegi agar mahasiswa tidak mati dalam berfilsafat. Setiap elegi dapat dibaca sesuai keinginan masing-masing elegi karena elegi juga tidak bersifat hierarkis.
Mahasiswa belajar filsafat para dewa yakni transendenisme. Para dewa adalah diri sendiri karena manusia memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk hidup yang lain misalnya tumbuhan dan hewan. Guru adalah dewa untuk murid-muridnya karena filsafat guru berada di luar batas murid-muridnya. Apabila guru bersalah, murid-muridnya tidak mengetahui kesalahan tersebut tetapi para penilai pendidikan yang dapat mengetahuinya. Dewa-dewa adalah orang-orang yang terpilih dan berkemampuan luar biasa. Selain mempelajari transendenisme, mahasiswa mempelajari komunikasi para dewa. Mahasiswa belajar filsafat yang berdimensi-dimensi sehingga tidaklah mudah untuk mempelajarinya. mahasiswa memelajari filsafat yang sopan santun karena filsafat yang baik adalah filsafat yang mengerti mengenai tata karma. Bahasa yang digunakan untuk diri sendiri dan orang tua sangatlah berbeda. Bahasa yang ditujukan untuk orang tua sangatlah halus dibandingkan dengan bahasa yang digunakan untuk diri sendiri dan teman sebaya.
Matematika benar ketika dipikirkan tetapi salah ketika telah diucapkan. Angka empat tidak sama dengan empat. Angka empat yang diucapkan pertama berbeda dengan angka empat yang kedua. Mahasiswa mulai memikirkan mengenai kontradiksi dalam matematika. Kontradiksi matematika dalam direnungkan dalam elegi. Mahasiswa merenungkan mengenai idealism hidup juga melalui elegi. Oleh karena itu, mahasiswa selalu dituntut untuk berpikir reflektif dengan berpikir dan bertanya sehingga dianggap ada. Mahasiswa tidak boleh setengah-setengah dalam berfilsafat dan harus sesuai dengan konteksnya.

Pertanyaan:
Apakah seorang dewa dapat naik/turun tingkatannya? Jika dapat, mengapa hal itu dapat terjadi?