Refleksi Ketigaku
Ada bermacam-macam
aliran dalam filsafat. Aliran filsafat diberi nama tergantung dari objeknya,nama
tokohnya, sifat bendanya, dan aktivitasnya. Aliran filsafat yang diberi nama berdasar dari
objeknya adalah filsafat alam karena objeknya adalah alam. Aliran yang sesuai dengan tokohnya yakni Hegelianism
adalah tokoh yang mengatakan yang ada dan yang mungkin ada adalah sejarah. Benda
dalam pikiran adalah ideal sehingga
filsafatnya bernama idealism. Dialektisism adalah filsafat dari bertanya.
Monoisme adalah Tuhan karena yang benar adalah satu hanyalah Tuhan. Pluralism
adalah filsafat terkait benda-benda yang banyak. Dualism adalah filsafat untuk
yang benar adalah dua. Dualism sering ditemui dalam masyarakat Indonesia yakni
meliputi benar-salah, baik-buruk, dan lain-lain. Aliran objektivisme adalah
kebenaran yang berasal dari objeknya. Lawan dari objektivisme yakni
subjektivisme. Subjektivisme adalah filsafat kebenaran yang berasal dari diri
sendiri.
Manusia selalu
menentukan apapun dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menentukan baju yang ia
pakai, menentukan apa yang akan dimakannya, memikirkan sesuatu, dan lain-lain
adalah contoh dari determinasi. Determinasi sejalan dengan reduksi. Reduksi adalah
pengurangan. Determinasi dan reduksi adalah sesuatu yang sangat ampuh. Dua hal
ini selalu berjalan beriringan dan tidak dapat terpisahkan. Seorang mahasiswa
memilih untuk menatap dan memperhatikan dosen yang sedang mengajarnya. Di lain
sisi, ia kehilangan kesempatan untuk
menatap dan memandang objek lain. Ia melaksanakan determinasi sekaligus
reduksi. Dalam perkuliahan filsafat pun, mahasiswa melaksanakan reduksi dan
determinasi. Mahasiswa bersama-sama dengan dosen mencari kebenaran dalam
filsafat. Mahasiswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berefleksi.
Mahasiswa juga diberikan fasilitas berfilsafat yakni dengan membaca
elegi-elegi. Elegi-elegi membantu mahasiswa untuk berinteraksi dengan filsafat.
Filsafat menggunakan metode hidup sehingga mahasiswa harus membaca elegi secara
berkelanjutan dan terus-menerus. Mahasiswa berinteraksi terus-menerus dengan
elegi agar mahasiswa tidak mati dalam berfilsafat. Setiap elegi dapat dibaca
sesuai keinginan masing-masing elegi karena elegi juga tidak bersifat
hierarkis.
Mahasiswa belajar
filsafat para dewa yakni transendenisme. Para dewa adalah diri sendiri karena
manusia memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari makhluk hidup yang lain
misalnya tumbuhan dan hewan. Guru adalah dewa untuk murid-muridnya karena
filsafat guru berada di luar batas murid-muridnya. Apabila guru bersalah,
murid-muridnya tidak mengetahui kesalahan tersebut tetapi para penilai
pendidikan yang dapat mengetahuinya. Dewa-dewa adalah orang-orang yang terpilih
dan berkemampuan luar biasa. Selain mempelajari transendenisme, mahasiswa
mempelajari komunikasi para dewa. Mahasiswa belajar filsafat yang
berdimensi-dimensi sehingga tidaklah mudah untuk mempelajarinya. mahasiswa
memelajari filsafat yang sopan santun karena filsafat yang baik adalah filsafat
yang mengerti mengenai tata karma. Bahasa yang digunakan untuk diri sendiri dan
orang tua sangatlah berbeda. Bahasa yang ditujukan untuk orang tua sangatlah
halus dibandingkan dengan bahasa yang digunakan untuk diri sendiri dan teman
sebaya.
Matematika benar ketika
dipikirkan tetapi salah ketika telah diucapkan. Angka empat tidak sama dengan
empat. Angka empat yang diucapkan pertama berbeda dengan angka empat yang
kedua. Mahasiswa mulai memikirkan mengenai kontradiksi dalam matematika. Kontradiksi
matematika dalam direnungkan dalam elegi. Mahasiswa merenungkan mengenai
idealism hidup juga melalui elegi. Oleh karena itu, mahasiswa selalu dituntut
untuk berpikir reflektif dengan berpikir dan bertanya sehingga dianggap ada. Mahasiswa
tidak boleh setengah-setengah dalam berfilsafat dan harus sesuai dengan
konteksnya.
Pertanyaan:
Apakah seorang dewa dapat naik/turun
tingkatannya? Jika dapat, mengapa hal itu dapat terjadi?