Refleksi
Ketujuhku
Filsafat adalah
berpikir reflektif. Semua hal dalam berfilsafat dimulai dari pertanyaan.
Pertanyaan yang timbul di setiap benak mahasiswa sebaiknya diajukan dan
didiskusikan oleh dosen agar wawasan dan pengetahuan filsafat mahasiswa semakin
berkembang. Dosen filsafat pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit,
M.A. akan menjawab segala pertanyaan dari mahasiswa. Pertanyaan pertama berasal
dari Lina Dwi Aris. Mahasiswa ini menanyakan apakah hakekat angin. Bapak Prof.
Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa objek dalam berfilsafat adalah berdimensi. Dimensi
yang paling primitif dalam filsafat adalah intuisi. Intuisi adalah hal-hal yang
tidak tahu sejak kapan manusia mengetahuinya seperti sejak kapan manusia
mengetahui enak, cantik, membedakan besar dan kecil, dan lain-lain. Definisi
tidak akan pernah tepat menggambarkan sebuah intuisi. Manusia berinteraksi
dengan orang tua dan teman sehingga akan membentuk intuisi. Intuisi menyebabkan
manusia dapat mengkategorikan hal-hal yang ia pelajari. Kategori terbentuk
dalam pikiran manusia. Immanuel Kant mengkategorikan objek-objek dan teorinya
tersebut digunakan kembali oleh manusia lain untuk mengkategorikan suatu benda.
Dimensi dalam filsafat adalah secara formal, normatif, material, dan
spiritualitas. Angin memiliki bentuk formal yakni angin ribut, topan, dan
lain-lain. Bentuk normatif dan spiritualnya tidak ada sehingga hakekat angin
hanya terbatas pada pengetahuan formal saja. Angin termasuk pengertian intuitif
empiris. Pertanyaan kedua diajukan oleh Eka Budhiarti. Mahasiswa ini menanyakan
apakah hakekat dari perceraian. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa bentuk
formal dari perceraian termuat dalam Undang-Undang Perkawinan. Bentuk normatif
dari perceraian yakni tentang baik-buruk, benar-salah, dan lain-lain.
Perceraian juga memuat bentuk spiritual karena termuat dala Kitab Suci.
Pertanyaan selanjutnya
berasal dari Nurmanita. Mahasiswa ini menanyakan apakah yang harus didahulukan
dalam sebuah rumah tangga, memberikan bantuan kepada pasangannya atau orang tua.
Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa hal yang perlu didahulukan adalah
komunikasi. Setiap manusia membutuhkan komunikasi agar segala sesuatu berjalan
seimbang dan tidak terjadi masalah yang tidak diharapkan.
Selanjutnya, Cony
Devilita mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tersebut adalah apakah kepercayaan
dan keyakinan dalam beragama. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa ada
bentuk-bentuk yang berkembang. Suatu kata dapat mengalami reduksi dan ekstensi.
Reduksi terjadi seperti kata bekas yang hanya digunakan untuk benda mati dan
kata mantan untuk makhluk hidup. Aliran kepercayaan dan keyakinan sebelumnya
dicampuradukkan. Kepercayaan dan keyakinan sejajar dan berdampingan.
Kepercayaan naik tingkat ke dalam bentuk formal karena termuat dalam
Undang-Undang. Kepercayaan juga memiliki bentuk spiritualnya.
Rudi Prasetyo
mengajukan pertanyaan yakni bagaimana cara mengatasi kekalahan agar tidak
semakin terpuruk. Manusia harus selalu berdoa dan berusaha. Agar tidak terpuruk
dalam berfilsafat, mahasiswa hendaknya rajin membaca elegi dan memahaminya
dengan memberikan komentar-komentar. Berfilsafat tidak hanya mengejar nilai
tetapi pada banyaknya membaca elegi dan membuat komentar.
Rina Susilowati mengajukan
pertanyaan yakni bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal. Hal-hal
dalam berfilsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada dapat dipakai untuk
menumbuhkan motivasi. Manusia seharusnya bersyukur karena memiliki alat tubuh
yang lengkap dan tidak kekurangan suatu apapun. Ia harus mengetahui bahwa di
luar sana masih banyak manusia lain yang tidak memiliki alat tubuh yang lengkap
tetapi tetap dapat bersyukur kepada Tuhan. Kesempatan seharusnya diraih karena
tidak akan dating dua kali. Komunikasi juga patut dikembangkan agar mampu
menumbuhkan semangat.
Tri Wahyuni mengajukan
pertanyaan bahwa mengapa ada pro dan kontra dan apa penyebabnya. Hal ini
terjadi karena merupakan ciptaan Tuhan bahwa pasti dalam hidup ada pro dan
kontra. Pro dan kontra dalam hati adalah godaan setan. Pertanyaan selanjutnya
adalah hakekat dari perubahan. Perubahan merupakan hal yang dipelajari secara
intuisi oleh manusia. Manusia tidak memerlukan definisi perubahan.
Pertanyaan berikutnya
dari Junia Indri yakni apa yang disebut dewa. Dewa tergantung ruang dan
waktunya. Setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi dewa. Dewa
berdimensi tetapi ada hal yang tidak dapat dikalahkan adalah usia. Pertanyaan
selanjutnya adalah bagaimana cara membedakan hasil berpikir filsafat dan hasil
telaah. Hasil berpikir filsafat dan telaah dibedakan berdasarkan kerangkanya.
Berfilsafat itu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Berpikir filsafat
adalah pikiran para filusuf. Berpikir filsafat juga intensif dan ekstensif yang
menyebabkan memiliki sudut pandang yang banyak dalam berfilsafat.
Pertanyaan dari
Ermitasari adalah mengapa banyak gejala alam yang semakin kompleks. Bagi para
orang tua, gejala alam justru semakin sederhana karena sudah mengalami
lupa/pikun. Bagi manusia yang masih remaja, kekompleksan merupakan bukti bahwa
makin banyak yang ia mengerti. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah hal-hal
yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan. Hal-hal
yang ada dan yang mungkin ada adalah sebagian dari ciptaan Tuhan. Masih banyak
hal lain yang merupakan ciptaan Tuhan yang belum diketahui oleh manusia.
Manusia tidak boleh beranggapan bahwa ia mengetahui segalanya karena manusia
pasti tidak akan mampu mengetahui segala ciptaan Tuhan. Manusia jangan hanya
berkutat dan sibuk pada ciptaannya sendiri tetapi juga pada hal-hal lain yang
ada. Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada harus selalu disyukuri dan manusia
harus selalu memohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa-dosa yang telah
diperbuat.
Beberapa pertanyaan
lain dari mahasiswa belum sempat terjawab karena keterbatasan waktu. Kami
sebagai mahasiswa pendidikan matematika sangat berterima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Marsigit, M.A. karena telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami
sehingga kami dapat menambah ilmu dan wawasan kami terkait filsafat pendidikan
matematika.
Pertanyaan:
Mengapa ada manusia yang tidak pernah
merasa puas pada segala sesuatu yang telah ia miliki?