ALIRAN-ALIRAN
FILSAFAT, TOKOH, DAN IDENYA
Filsafat pendidikan Matematika telah
berkembang dari jaman Yunani Kuno, 0 Masehi, Jaman Kegelapan, Abad 15 Masehi,
Abad 16 Masehi, Abad 17-18 Masehi, Abad 19 Masehi, hingga sekarang.
A.
Yunani
Kuno
Filsafat yang berkembang
pada masa Yunani Kuno diibaratkan sebagai gunung-gunung besar yang memiliki
mata air yang mengalirkan air yang jernih. Tokoh-tokoh dalam filsafat Yunani
Kuno adalah:
1.
Permanides
(Tetap)
Parmenides adalah seorang
filsuf dari Mazhab Elea. Pemikiran
filsafatnya bertentangan dengan Heraclitos sebab ia
berpendapat bahwa segala sesuatu "yang ada" tidak berubah. Parmenides
menuliskan filsafatnya dalam bentuk puisi. Ada ratusan baris puisi Parmenides
yang masih tersimpan hingga kini. Menurut Parmenides, inti utama dari
"Jalan Kebenaran" adalah keyakinan bahwa "hanya 'yang ada' itu
ada". Parmenides tidak mendefinisikan apa yang dimaksud "yang
ada", namun menyebutkan sifat-sifatnya. Menurut Parmenides, "yang
ada" itu bersifat meliputi segala sesuatu, tidak bergerak, tidak berubah,
dan tidak terhancurkan. Selain itu, "yang ada" itu juga tidak
tergoyahkan dan tidak dapat disangkal.
2.
Socrates (Dialectic)
Peninggalan
pemikiran Socrates yang paling penting ada pada cara dia berfilsafat dengan
mengejar satu definisi absolut atas satu permasalahan melalui satu dialektika. Pengejaran
pengetahuan hakiki melalui penalaran dialektis menjadi pembuka jalan bagi para filsuf selanjutnya.
Perubahan fokus filsafat dari memikirkan alam menjadi manusia juga dikatakan
sebagai jasa dari Sokrates. Manusia menjadi objek
filsafat yang penting setelah sebelumnya dilupakan oleh para pemikir hakikat alam
semesta.
Pemikiran tentang manusia ini menjadi landasan bagi perkembangan filsafat etika
dan epistemologis di kemudian hari. Pemikiran Socrates yang terpenting adalah
metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak
diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Oleh karena itu, Socrates
dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral dan juga filsafat
secara umum.
3.
Heraclitos (Berubah)
Herakleitos
memiliki ketertarikan tentang moralitas dan teologi. Dia juga memiliki
perhatian tentang cara yang tepat untuk memahami pengetahuan,
kebijaksanaan dan keahlian. Namun ada beberapa hal yang membuat pemikiran
Herakleitos berbeda dari Xenophanes maupun pemikir lainnya. Fragmen-fragmennya,
ketika dipadukan dan ditafsirkan secara menyeluruh, akan memperlihatkan tidak
hanya pandangan tentang semesta, melainkan pula pandangan tentang letak manusia
di dunia. Pendapat Herakleitos tentang bagaimana seharusnya manusia berpikir
tentang dirinya dalam kaitannya dengan dunia yang ditempati manusia.
Fragmen-fragmen
peninggalan Herakleitos adalah oracle yang mengandung teka-teki dan tidak
mudah dipahami. Fragmen-fragmennya sangat pendek, umumnya berupa pernyataan
satu atau dua kalimat. Pernyataannya bersifat ambigu dan tidak simpel. Diakui,
sangatlah sulit untuk mengkaji fragmen tersebut dan mengkonstruksikan sebagai
suatu “Heraclitean Philosophy” yang jelas dan konsisten.
B.
0 Masehi
Filsafat yang
berkembang pada masa 0 Masehi diibaratkan sebagai gunung-gunung besar yang
memiliki mata air yang mengalirkan air yang jernih. Tokoh-tokoh pada masa ini
adalah:
1.
Plato (Idealis)
Plato
memiliki pandangan yang sangat penting yakni pandangan mengenai idea. Pandangan
Plato terhadap idea-idea dipengaruhi oleh pandangan Socrates tentang definisi. Idea yang dimaksud
oleh Plato bukanlah ide yang dimaksud oleh orang modern. Menurut Plato idea tidak diciptakan
oleh pemikiran manusia. Idea tidak tergantung
pada pemikiran manusia, melainkan pikiran manusia yang tergantung pada idea. Idea adalah
citra pokok dan perdana dari realitas, nonmaterial, abadi, dan tidak berubah.
Idea sudah ada dan berdiri sendiri di luar pemikiran kita. Idea-idea ini saling
berkaitan satu dengan yang lainnya. Misalnya, idea tentang dua buah lukisan
tidak dapat terlepas dari idea dua, idea dua itu sendiri tidak dapat terpisah
dengan idea genap. Namun, pada akhirnya terdapat puncak yang paling tinggi di
antara hubungan idea-idea tersebut. Puncak inilah yang disebut idea yang
“indah”. Idea ini melampaui segala idea yang ada. Dunia idea adalah dunia yang
hanya terbuka bagi rasio kita. Dalam dunia ini tidak ada perubahan, semua idea
bersifat abadi dan tidak dapat diubah. Hanya ada satu idea “yang bagus”, “yang
indah”. Di dunia idea semuanya sangat sempurna.
2.
Aristoteles
(Realisme)
Filsafat
Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar
di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut,
kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum
mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap
sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang
Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.
C.
Abad 12-13 Masehi (Jaman Kegelapan)
Secara garis besar
filsafat abad pertengahan dapat dibagi menjadi dua periode yaitu: periode
Skolastik Islam dan periode Skolastik Kristen. Para Skolastik Islamlah yang
pertama mengenalkan filsafat Aristoteles yakni Ibnu Rusyd. Ia mengenalkan
kepada orang-orang barat yang belum mengenal filsafat Aristoteles. Para ahli
pikir Islam (Skolastik Islam) yaitu Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Gazali,
Ibnu Rusyd dll. Mereka itulah yang memberi sumbangan sangat besar bagi para
filosof eropa yang menganggap bahwa filsafat Aristoteles, Plato, dan Al-Quran
adalah benar. Namun dalam kenyataannya bangsa eropa tidak mengakui atas peranan
ahli pikir Islam yang mengantarkam kemoderenan bangsa barat.
Periode Skolastik
Kristen dalam sejarah perkembangannya dapat dibagi menjadi tiga, Yaitu: Masa
Skolastik Awal, Masa Skolastik Keemasan, Masa Skolastik Terakhir.
·
Masa Skolastik Awal (Abad 9 - 12 M)
Masa ini merupakan
kebangkitan pemikiran dari kungkungan gerejawan yang telah membatasi
berfilsafat karena berfilsafat sangat membahayakan bagi agama Kristen khususnya
pihak gerejawan. Hal yang ditonjolkan dalam masa ini adalah hubungan antara
agama dengan filsafat karena keduanya tidak dapat dipisahkan dan dengan
keduanya manusia akan memporoleh pengetahuan yang lebih jelas. Pada masa ini
filsafat masih bertumpu pada alam pikiran dan karya-karya kristiani. Pada masa
ini juga berdiri sekolah-sekolah yang menerapkan studi duniawi meliputi: tata
bahasa, retorikaa, dialektika, ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan
musik. Sekolah yang mula-mula ada di biara Italia selatan ini akhirnya berpengaruh
ke daerah-daerah yang lain.
·
Masa Scholatik Keemasan (1200 – 1300 M)
Pada masa ini
Skolastik mengalami kejayaan yang berlangsung dari tahun 1200-1300 M, disebut
juga dengan masa yang berbunga dan bertumbuh kembang, karena muncul banyak
Universitas dan ordo-ordo yang menyelenggarkan pendidikan ilmu pengetahuan. Ada
beberapa faktor yang memengaruhi pada masa ini skolastik mencapai keemasan
yakni Pertama, pengaruh dari Aristoteles dan ahli pikir Islam sejak abad ke 12
sehingga pada abad ke 13 telah tumbuh ilmu pengetahuan yang luas. Kedua,
berdirinya beberapa Universitas. Ketiga munculnya ordo-ordo yang membawa
dorongan kuat untuk memberikan suasana yang semarak pada abad ke 13. Pada masa
ini juga ada seorang filofos Agustinus yang menolak ajaran Aristoteles karena
sudah dicemari oleh ahli pikir Islam, dan hal ini sangat membahayakan ajaran
Kristen, maka Abertus Magnus dan Thomas, sengaja menghilangkan unsur-unsur atau
selipan-selipan dari Ibnu Rusyd. Upaya Thomas Aquinas yang berhasil ini
sehingga menerbitkan buku yang berjudul Summa Theologie, yang merupakan bukti
kemenangan ajaran Aris Toteles diselaraskan dengan ajaran Kristen.
·
Masa Skolastik Akhir (1300 – 1450 M)
Masa ini ditandai denga kemalasan
berpikir filsafat sehingga menjadi stagnasi pemikiran filsafat Scholasti
Kristen. Nicolous Cusanus (1401-1404 M) adalah tokoh yang terkenal pada masa
ini dan sebagai tokoh pemikir yang terakhir pada masa Skolastik. Menurut
pendapatnya, terdapat tiga cara untuk mengenal yaitu lewat indera, lewat akal,
dan lewat intuisi. Dengan indera manusia mendapatkan pengetahuan tentang
benda-benda yang berjasad (sifatnya tidak sempurna). Dengan akal, manusia bisa
mendapatkan bentuk yang abstrak yang telah ditangkap oleh indera. Dalam intuisi
manusia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi, karena dengan intuisi
manusia dapat mempersatukan apa yang oleh akal tidak dapat dipersatukan. Karena
keterbatasan akal itu sendiri maka dengan intuisiah diharapkan sampai pada
kenyataan, yaitu Tuhan. Korban dalam jaman kegelapan adalah:
1.
Galileo Galilei
2.
Bruno
Bruno juga
merupakan tokoh matematika yang menjadi korban jaman kegelapan. Giordano Bruno adalah seorang filsuf, pendeta,
dan ahli kosmologi Italia.
Bruno dikenal karena penggunaan dan pembuatan seni memori
yakni sebuah sistem jembatan keledai yang didasarkan pada pengetahuan
terkumpul. Ia juga pencetus awal ide alam semesta tak terbatas. Bruno mendukung teori yang dikemukakan oleh
Copernicus dan menyatakan
bahwa bumi dan benda-benda langit lainnya berputar mengelilingi matahari.
D.
Abad 15/Jaman Pengerahan
Copernicus
Adanya revolusi
Copernicus melambangkan sungai-sungai yang terbuka kembali setelah mati.
Kehidupan di sungai mula hidup kembali. Filsafat pendidikan matematika
berkembang kembali setelah lama mati akibat dominasi Gereja. Tokoh yang
membangkitkan filsafat kembali adalah Nicolaus Copernicus.
Ia mampu
menjelaskan tata surya dalam bentuk yang terperinci sehingga teori
tersebut bermanfaat bagi sains. Ia juga
seorang kanon gereja,
gubernur,
administrator, hakim, astrolog,
dan tabib. Teorinya tentang Matahari sebagai pusat t
ata s
urya, yang menjungkirbalikkan teori geosentris tradisional yakni
yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta dianggap sebagai salah satu penemuan yang terpenting sepanjang masa dan
merupakan titik mula fundamental bagi astronomi modern dan sains modern (teori
ini menimbulkan revolusi ilmiah). Teorinya memengaruhi banyak aspek kehidupan manusia lainnya. Universitas Nicolaus Copernicus di Torun didirikan tahun 1945, dinamai untuk
menghormatinya.
E.
Abad
16 (Awal Jaman Modern)
Filsafat yang
berkembang pada abad 16 Masehi diibaratkan juga sebagai sungai-sungai yang
hidup dan mengalirkan air yang jernih setelah lama mati. Tokoh-tokoh pada masa
ini adalah:
1.
Rene
Descartes (Slepticism/Rationalism)
René Descartes merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya
yang terpenting ialah Discours
de la méthode(1637) dan Meditationes
de prima Philosophia (1641). Descartes, kadang
dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika
Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam
sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan
membentuk rasionalisme kontinental yakni
sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18. Pemikirannya membuat
sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa
semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.
2. David Hume (Empiricism)
F. Abad
17-18 (Jaman Modern)
Filsafat yang
berkembang pada abad 17-18 Masehi diibaratkan juga sebagai muara sungai yakni
tempat bertemunya aliran-aliran dari segala sungai dan berhubungan bebas dengan
laut. Tokoh filsafat pada jaman modrn ini adalah Immanuel Kant.
Kant mengemukakan
pendapatnya tentang transendenisme yakni membatasi pengetahuan manusia atau di
luar kesanggupan manusia.
Karya Kant
yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia mengemukakan
apa yang bisa diketahui manusia. Ia menyatakan ini
dengan memberikan tiga pertanyaan:
§
Apakah yang bisa
kuketahui?
§
Apakah yang harus
kulakukan?
§
Apakah yang bisa
kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:
§
Apa-apa yang bisa
diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca
indera. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
§
Semua yang harus
dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini
disebut dengan istilah “imperatif
kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila
hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri,
masyarakat tidak akan jalan.
§
Yang bisa
diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.
G. Abad
18-19 (Jaman Pos Modern)
Muara sungai
bertemu di bendungan. Aliran air di bendungan akan terhubung ke pantai bebas
yang sangat besar dan luas. Filsafat di masa ini berkembang dengan pesat.
Tokoh-tokoh pada abad 18-19 Masehi adalah:
1. August Comte
August Comte adalah
orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Comte
meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques
nécessaires pour réorganiser la société (1822).
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang
menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan
menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya
spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.
2.
Hegelisme (Hegelianism)
Frederich
Hegel adalah seorang professor yang lahir di Stuttgart tahun1770 dan
meninggal tahun 1813 yang melahirkan teori hegelisme. Hegel mengkritik
pemikiran- pemikiran tokoh romantis seperti pemikiran schelling tentang ruh
dunia. Hegel mengintrepetasikan ulang ‘ruh dunia’ akal manusia yakni seluruh
perkataan manusia. Hegel menyatakan bahwa kebenaran merupakan hal yang sangat
subyektif. Semua pengetahuan bagi Hegel adalah pengetahuan manusia.
3.
Marxisme
Marxisme adalah sebuah paham yang mengikuti
pandangan-pandangan dari Karl Marx.
Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi,
sistem sosial,
dan sistempolitik. Pengikut teori ini disebut sebagai Marxis. Marxisme mencakup materialisme dialektis dan materialisme historis
serta penerapannya pada kehidupan sosial.
Marxisme memadukan tiga tradisi intelektual yang masing-masing telah sangat
berkembang saat itu, yaitu filsafat Jerman,
teori politik Perancis,
dan ilmu ekonomi Inggris.
Marxisme tidak bisa begitu saja dikategorikan sebagai "filsafat"
seperti filsafat lainnya, sebab marxisme mengandung suatu dimensi filosofis yang utama dan bahkan memberikan
pengaruh yang luar biasa terhadap banyak pemikiran filsafat setelahnya. Itulah sebabnya,sejarah filsafat zaman modern tidak mungkin
mengabaikannya.
H.
Jaman Pos-Pos Modern (Contemporer)
Aliran-aliran air dari pantai
sampai pada laut dangkal. Auguste Compte yang mengemukakan teori positivisme
mempengaruhi penemuan teori-teori baru yakni:
1.
Pragmatism (Pragmatisme)
Pragmatisme adalah
aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala
sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada
akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.Dengan demikian,
bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana
kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu. Dasar dari
pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta
individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan
diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia
selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan
kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan
pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik,
sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Baratdi dalam sejarah.
Tokoh pragmatisme adalah Charles Peirce.
2.
Utilitarian
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan.
Istilah ini juga sering disebut sebagai
teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory).
Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Benthamdan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang
baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk
adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik
buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan
menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.
Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari
atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik
bagi diri sendiri ataupun orang lain.
3.
Capitalis (Kapitalisme)
Kapitalisme atau kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik
modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi
prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna
keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran
untung kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme
sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas.
Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai
berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa
perkembangan perbankankomersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat
bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan
perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang
jadi. Tokoh kapitalisme adalah Adam Smith.
4.
Hedonism (Hedonisme)
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap
bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin
dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan
bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Hedonisme muncul pada awal sejarah
filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi
manusia?" Hal ini diawali
dengan Soc
rates yang
menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia. Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik
bagi manusia adalah kesenangan.
Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari
kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang
lain lagi.
5.
Filsafat Bahasa (Analitik)
Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini
menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar
konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat bahasa sehari-hari. Filsafat
bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf,
sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat
bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual
knowledge melalui pemahaman
terhadap bahasa. Dalam rangka mencari pemahaman ini, para filsuf telah juga mencoba
mendalami hal-hal lain, misalnya fisika, matematika, seni, sejarah, dan
lain-lain. Cara bagaimana pengetahuan itu diekspresikan dan dikomunikasikan di
dalam bahasa, di dalam fisika, matematika dan lain-lain itu diyakini oleh para
filsuf berhubungan erat dengan hakikat pengetahuan atau dengan pengetahuan
konseptual itu sendiri. Jadi, dengan meneliti berbagai cabang ilmu itu,
termasuk bahasa, para filsuf berharap dapat membuat filsafat tentang
pengetahuan manusia pada umumnya.
Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah linguistik
bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat
bahasa. Jadi, para sarjana bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat
bahasa itulah tujuan akhir kegiatannya, sedangkan filsafat bahasa mencari
hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan konseptual. Dalam usahanya
mencari hakikat pengetahuan konseptual itu, para filsuf mempelajari bahasa
bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai objek sementara agar pada
akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.
I. Kehidupan
Praktis (Kontekstual)
|
Aliran air di laut dangkal menuju
ke laut dalam. Filsafat terus berkembang hingga sekarang. Filsafat pendidikan
matematika sangat dekat dengan kehidupan nyata yang dialami oleh siswa.
Filsafat adalah olah pikir yang reflektif. Dalam berfilsafat, objeknya adalah
permasalahan matematika yang bersifat kontekstual. Di sekolah, metode
pembelajaran kontekstual diterapkan oleh guru. Siswa diberikan
kesempatan-kesempatan untuk menggunakan kemampuan-kemampuan akademik mereka
untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan nyata yang kompleks. Kenyataan
menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara
materi yang mereka pelajari dengan pemanfaatannya dalam kehidupan nyata.
Pemahaman konsep akademik yang dimiliki siswa hanyalah merupakan sesuatu yang
abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan siswa. Pembelajaran
secara konvensional yang diterima siswa hanyalah penonjolan tingkat hafalan
dari sekian macam topik, tetapi belum diikuti dengan pengertian dan pemahaman
yang mendalam yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi
baru dalam kehidupannya.
|