Minggu, 23 Oktober 2011

Review 24


WAWASAN TENTANG
STRATEGI DAN APLIKASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
BERBASIS KOMPETENSI
Oleh
Drs. Marsigit MA, Dosen Jurusan Pendidikan Matematika
FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
Reviewed by: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University
(
http://felisitassayekti.blogspot.com)

Planning and curriculum development is a job that requires in-depth and comprehensive study to meet the eligibility requirements. Six basic principles must be considered in the development of mathematics syllabus based on competencies, namely: learning opportunities for students of all subjects without exception, the curriculum is not merely a collection of teaching materials, but may reflect a coherent mathematical activity, mathematical learning requires an understanding of student learning needs, readiness to learn and service learning facilities, an opportunity for students to learn mathematics actively to build the structure of concepts through knowledge and experience, the need for assessment activities to improve the quality of learning from time to time, and utilization of various learning strategies and methods dynamically and flexibly in accordance with the material, students and learning context.
Pure mathematics to be converted into school mathematics. Teachers need to structure learning syllabus is good and right. The format is a form of presentation of the contents of the syllabus syllabus consisting of competency standards, basic skills, learning materials, a description of learning materials, student learning experience allocation of time, and reference sources are used, whereas the systematic presentation of the syllabus describes the sequence of parts of the syllabus. Format syllabus is made in such a way that teachers or the user can learn and practice the syllabus with ease.
Step-by-step preparation of syllabus Komampuan Based Elementary Mathematics subjects, a series of events that begins with the philosophical study of the development of mathematics education, including the preparation of scientific structures. Learning materials were developed based on the Basic Capabilities, and followed by a description of material and writing a Learning Experience. Draft Competency-Based Curriculum and Syllabus obtained subsequent to the final seminar of the test results at various places in Indonesia. Mathematics instructional material include:
a. Facts (facts)
b. Understanding (concepts)
c. Reasoning skills
d. Algorithmic skills.
e. Mathematical problem-solving skills (problemsolving)
f. Skills investigation (investigation)
Learning Unit (SP) is a translation in a more operational than the syllabus into fragments operationally learning activities that can be done by the teacher. Learning program is a plan classroom activities designed by teachers which contains step-by-step scenario of what will be done with students. SP components include: the identity of subjects, basic skills, learning materials, learning strategies, instructional media, assessment, and resource materials.

Review 23

“INOVASI PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN GAIRAH
SISWA DALAM BELAJAR”
Oleh : Drs. Marsigit MA
(FMIPA UNY)
Reviewed by: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University
(
http://felisitassayekti.blogspot.com)
Students have difficulty in learning while educators are not easy to change the style of teaching. Educators must always adapt to the demands of teaching methods to date. This view of learning that should be implemented namely: groups who argue that learning should emphasize on understanding the material (content focused - conceptual understanding); groups who argue that learning needs to prioritize the learning outcomes (content focus - performance); groups who argue that learning should be centered subject to the learners (learner focus - construction); and groups who argue that learning should start from the planning of classroom management that is conducive to learning (classroom focus - effective classroom).
Learning should provide an opportunity for teachers to use the choice of teaching methods that are tailored to students' ability levels namely: method of exposition by the teacher; discussion method; method of problem solving (problem solving); method of discovery (investigation), methods of practice basic skills and principles; method of application. Approach to education "conforming" tend to retain the old values; "transforming approach" is more about an order or oriented to the market, and approach to "reforming" education developed based on human values ​​according to context. "Instrumental Curriculum" more emphasis on academic and technical approach; "Interactive Curriculum" approach emphasizes the social and "individualistic Curriculum" more emphasis on cognitive development of the subject individual learners.
Competency-based education has become an alternative implementation of learning that emphasizes the skills that should be possessed by graduates. Breath of competency-based curriculum is on developing first-hand experience of learning, contextual teaching and learning (CT & L), meaningful teaching, with attention to life skills (life skills) in the form of generic skills (personal skills, social skills, academic skills and proficiency skills).
Learning paradigm changes required to make students feel happy and motivated in their learning, teachers need to realize the paradigm shift as follows:
Hijra, MOVE, CHANGE, INNOVATION, REFORM, CONTEMPLATE, REFLECTIONS from "traditional learning" to "progressive learning"

Review 22


PHILOSOPHICAL EXPLANATION ON MATHEMATICAL
EXPERIENCES OF THE FIFTH GRADE STUDENTS
Penjelasan Secara Filsafati Pada Pengalaman Percobaan
Matematika Siswa Kelas V
By Marsigit
Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science,
the State University of Yogyakarta,

Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(
http://felisitassayekti.blogspot.com)
Penelitian ini mengenai penjelasan secara filsafati pada pengalaman percobaan matematika pada siswa kelas 5 SD. Penelitian memberikan wawasan mengenai peran yang berbeda dari epistemis dan aksesibilitas bahan pembelajaran fisik. Epistemis diperlukan untuk mengajar didasarkan pada konsep dengan model, sedangkan aksesibilitas mempromosikan keterlibatan kelas kaya. Epistemis kesetiaan dan aksesibilitas memiliki peran yang berbeda dalam pembentukan transparansi. Dari semua temuan tersebut, penulis berusaha untuk mengembangkan metode untuk mengungkap apa yang ada di balik konsep-konsep.
Guru berkaitan dengan siswa yakni mengenai status pengetahuan matematikanya yang dihasilkan dengan memanipulasi bahan fisik dalam skema Greimas 'Analisis Struktural Hermenetics. Jika perbedaan antara dua jenis persepsi adalah mitos, kita masih dapat berdebat pada status pengetahuan matematika. Para peneliti mengakui bahwa beberapa bahan manipulatif dapat membuat salah tafsir. Hal ini dapat dijelaskan dengan teori “double affection” yakni para guru sudah akrab dengan konsep-konsep yang disajikan. Penulis memandang bahwa gagasan Kant tentang penampilan dalam diri guru dan hal dalam dirinya berguna untuk menjelaskan masalah visibilitas dan / atau tembus dari perangkat mekanik. Penulis menekankan bahwa konteks yang berbeda, yaitu dalam jangka waktu dan ruang seperti yang dijelaskan oleh Kant dapat mempengaruhi persepsi siswa mengenai objek. Oleh karena itu, guru perlu untuk mempekerjakan orang-orang sebagai salah satu faktor pendukung dalam belajar mengajar matematika. Hubungan antara perangkat dan target pengetahuan sangat intensif akan dibahas oleh Kant dalam “Critical of Pure Reason”. Teori umum aspek proses belajar mengajar matematika adalah untuk mengejar dalam jangka waktu hubungan mahasiswa sebagai bahan subyek dan fisik sebagai obyek dalam skema Hermenetics Greimas 'Analisis Struktural. Upaya untuk mengejar hubungan tersebut akan menentukan tingkat kualitas sudut pandang filsafat.

Review 21

Stimulating Primary Mathematics Group-Discussion
By
Shisumi Shimizu
Marsigit

Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(
http://felisitassayekti.blogspot.com)
Artikel ini berisi penelitian kegiatan siswa dalam membangun karakteristik pola angka yang dihasilkan dari penambahan dan pengurangan setiap dua reversibel dua digit angka. Penelitian ini dilakukan di siswa kelas 6 SD Gambiranom, Yogyakarta, Indonesia. Tujuan utama dari penelitian ini adalah meningkatkan praktek mengajar matematika berdasarkan posisi ideal mengajar matematika primer dan atas dasar asumsi bahwa guru dapat belajar dan menciptakan pengetahuan melalui pengalaman dan mengamati serta merenungkan pengalaman itu. Penelitian ini meliputi: mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar matematika, merancang strategi untuk memecahkan masalah sebagai hasil komunikasi simetris antara peneliti dan guru, menerapkan dan menguji strategi, mengevaluasi efektivitas strategi, mencerminkan hasil, identifikasi kesimpulan, mengulangi siklus dengan meningkatkan praktek, dan melaporkan penemuan.
Pada siklus pertama penelitian, guru mengarahkan siswa untuk memiliki beberapa kompetensi mengkarakterisasi pola nomor dengan melakukan penambahan dari dua reversibel dua digit angka. Skema dari proses belajar mengajar pada siklus ini meliputi guru memperkenalkan pelajaran, informasi yang disampaikan, mengajukan masalah dan menjelaskan apa yang siswa harus dilakukan dalam kegiatan-kegiatan berikut. Guru memerintahkan siswa untuk menghasilkan penambahan dari dua reversibel dua digit angka dan membiarkan siswa untuk bekerja dalam kelompok diskusi. Guru mendorong siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka dan berusaha menyimpulkan hasil. Dalam siklus ini guru mengembangkan lembar kerja dan didistribusikan sebelum para siswa bekerja dalam kelompok diskusi.
Dalam siklus kedua, guru mengarahkan siswa untuk memiliki beberapa kompetensi mengkarakterisasi beberapa pola nomor dengan melakukan pengurangan dari dua reversibel dua digit angka. Skema dari proses belajar mengajar pada siklus 2 yakni guru memperkenalkan pelajaran, informasi yang disampaikan, mengajukan masalah dan menjelaskan apa yang siswa harus dilakukan dalam kegiatan-kegiatan berikut. Guru memerintahkan siswa untuk menghasilkan pengurangan dari segala bentuk dua angka reversible dan membiarkan siswa untuk bekerja dalam kelompok diskusi. Guru mendorong siswa untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka dan berusaha untuk menyimpulkan hasil.
Hasil dari penelitian adalah dalam penelitian tindakan kelas, jika guru memiliki persiapan yang baik dan mengembangkan beberapa skema untuk mengajar, siswa mengkonstruksi pengetahuan mereka secara jelas. Anak-anak tidak hanya melakukan kegiatan di bawah bimbingan guru namun mereka pun harus mampu mengembangkan kegiatan mereka berdasarkan pengaruh arah dan fokus kegiatan sendiri. Dengan mengamati transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, peneliti menemukan bahwa beberapa lembar kerja yang dikembangkan oleh guru memiliki pengaruh terhadap jalannya kegiatan dan memulai berbagai percakapan interaksi. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kita dapat menafsirkan peran guru melalui perspektif siswa pada interaksi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa melalui penelitian tindakan kelas, siswa tidak hanya sebagai pembelajar aktif tetapi juga sebagai konstruktor hidup pengetahuan mereka sendiri.