Rabu, 09 November 2011

Review 31

Asumsi Dasar
Karakteristik Matematika, Subyek Didik dan Belajar Matematika
Sebagai Dasar Pengembangan Kurikulum Matematika Berbasis
Kompetensi Di SMP
Oleh :
Marsigit
FMIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
                                                                                              

Reviewed by: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University
(
http://felisitassayekti.blogspot.com)

The basic concept of competency-based mathematics curriculum development is a basic assumption of the characteristics of mathematic, the subjects were students, and learning of mathematics as a basis for development of competency-based mathematics curriculum in junior high. The basic assumption of the characteristics of mathematics, the subject of learners, and learning of mathematics that is used as the basis for the development of competency-based curriculum in middle school mathematics refer to the results of research conducted by practitioners of mathematics education.
Competency-based mathematics education emphasizes on the ability to be possessed by graduates so that the curriculum was developed based on the elaboration of competence standards into basic competencies. Center of the CBC is the development of children's learning experiences, contextual teaching and learning (CTL), meaningful teaching, with attention to life skills in the form of generic skills personal skills, social skills, academic skills and proficiency skills.
Experiences and learning activities are activities that students need to be done in order to achieve the basic competencies and learning materials. Judging from the competencies to be achieved, the experience can learn to memorize, use, and find. Judging from the material side, the learning experience can be associated with acquired facts, concepts, principles, and others. The learning experience can be obtained both inside and outside the classroom. The learning experience students need to be supported by the availability of source material, either a direct object and indirect object that is contextual. Thus, learning strategies can be developed: emphasis on problem solving, learning in different contexts of daily life, encouraging students as active Learners, students appreciate the uniqueness of self and pay attention to the diversity of student differences, learning through cooperative learning, and develop the assessment in the system the test. Development and learning experiences is the essence of mathematics competency-based curriculum, where it includes the study of the characteristics of mathematics, the subject of students, and learning of mathematics.

Minggu, 06 November 2011

Review 34


PROMOTING PRIMARY AND SECONDARY MATHEMATICAL
THINKING THROUGH THE SERIES OF SCHOOL-BASED
LESSON STUDY ACTIVITIES
By Marsigit,
Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science,
THE YOGYAKARTA STATE UNIVERSITY


Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Berpikir matematika dapat dilakukan melalui mengidentifikasi atau menjelaskan matematika tertentu, skemasasi, merumuskan dan visualisasi masalah dalam cara yang berbeda, yakni menemukan hubungan, keteraturan, mengenali aspek isomorfis dalam masalah yang berbeda; dan mentransfer masalah dunia nyata ke masalah matematika. Berpikir matematika dimulai ketika guru mengajukan masalah dalam LKS. Para siswa bekerja dengan pengetahuan pra syarat mereka untuk melakukan pemikiran matematika. Para siswa menggunakan cara yang berbeda untuk melakukan skemasasi, merumuskan, dan visualisasi. Rangkaian kalimat yang dihasilkan oleh kelompok pertama ditunjukkan dengan matematikasasi horisontal kemudian diikuti oleh matematikasasi vertikal. Dalam melaksanakan matematikasasi vertikal, siswa membutuhkan bantuan dari guru.
Para siswa mengakui aspek isomorfis dalam masalah matematika yang berbeda yaitu konsep-konsep kunci yang dicerminkan dengan kata kunci tentang bagaimana siswa dapat mentransfer masalah dunia nyata ke masalah matematika. Pemikiran siswa tentang konsep matematika dipengaruhi oleh koneksi antara untaian konsep-konsep matematika yang dikembangkan sebelumnya. Para siswa berusaha untuk menggunakan pengetahuan prasyarat mereka dalam menjelaskan konsep yang sulit dan mengembangkan langkah untuk memahami konsep-konsep sulit. Sebagian besar siswa berpikir induktif dengan trial dan error untuk menjawab pertanyaan guru. Beberapa siswa mencoba untuk membuat sketsa bentuk geometris dan membandingkan dengan ukuran yang berbeda dari model. Para siswa cenderung untuk kembali meminta penjelasan dan mendapatkan perhatian dari guru dan teman sekelas mereka untuk mengkonfirmasi apakah ide-ide mereka itu benar.
Pemikiran induktif siswa melibatkan konkretisasi abstraksi dan metode di bidang pembentukan dan pemahaman masalah. Ketika siswa telah mengenal konsep-konsep tertentu, mereka cenderung untuk menegaskan kembali konsep-konsep mereka. Berpikir induktif tersebar dari kegiatan awal sampai akhir ketika siswa melakukannya. Berpikir induktif juga terkait dengan perspektif di mana siswa menggunakan model yang konkret untuk mencari luas lingkaran, silinder kanan, dan silinder tegak. Model silinder lingkaran tegak menjadi model yang penting yang berisi komponen-komponennya: dua lingkaran kongruen dan satu lonjong. Konsep matematika dalam metode matematika meliputi: idealisasi, abstraksi, deduksi, induksi dan implikasinya. Masalah pembentukan dan pemahaman muncul ketika siswa mengamati model matematika.

Review 33


DEVELOPING SCHOOL-BASED CURRICULUM
FOR JUNIOR HIGH SCHOOL MATHEMATICS
IN INDONESIA
By
Marsigit
Faculty of Mathematics and Science, the State University of Yogyakarta, Indonesia


Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Sejak tahun 1945 hingga akhir tahun 1990, pendekatan untuk mengembangkan pendidikan telah dirancang dengan asumsi bahwa tujuan-tujuan kurikuler dapat diturunkan secara logis dari nasional dan menjadi hirarki tepat tujuan instruksional. Pembelajaran dapat dibuat secara individual oleh guru sehingga siswa dapat mempelajari apa yang mereka butuhkan dari guru.
Namun, pada tahun 1984, bukti menunjukkan bahwa pendekatan ini dirasakan tidak mampu memobilisasi sumber daya dan memulai model untuk aplikasi nasional. Hal ini mendorong dilaksanakannya kegiatan piloting mengajar matematika di sekolah menengah pertama di beberapa negara. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengembangkan dan mencoba beberapa model mengajar di sekolah. Para dosen pendidikan dan guru bekerja sama di sekolah-sekolah untuk mengembangkan model pengajaran yang dibutuhkan di lapangan. Strategi dasar untuk uji coba adalah mempromosikan paradigma baru pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan. Tujuan uji coba adalah untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendidikan matematika dan sains di sekolah-sekolah dengan mencoba beberapa hal yang dikembangkan dalam proyek ini yang langsung berhubungan dengan sekolah. Kegiatan uji coba dilakukan melalui penelitian tindakan kelas antara dosen dan guru kolaboratif.
Pengembangan kurikulum membutuhkan kajian komprehensif dan mendalam dari semua aspek yang terlibat, yakni: kesempatan untuk belajar matematika untuk semua, kurikulum yang tidak hanya mengkoleksi materi tetapi harus mencerminkan kegiatan matematika yang koheren, kegiatan belajar mengajar matematika membutuhkan teori yang menyeluruh tentang kegiatan siswa, kesiapan mereka untuk belajar dan peran guru memfasilitasi belajar mereka, kesempatan kepada pelajar untuk mengembangkan konsep matematika mereka, kebutuhan untuk mengembangkan penilaian tertanam dengan proses belajar mengajar, dan menggunakan berbagai jenis sumber belajar mengajar. Perhatian utama dalam pengembangan kurikulum matematika adalah untuk memastikan bahwa kurikulum proses belajar mengajar mencerminkan yang telah dimaksudkan dan perlu mengembangkan: Pedoman untuk mengembangkan silabus nya, Pedoman pelaksanaan kurikulum, mendukung dokumen-dokumen seperti selebaran, lembar kerja siswa, keterlibatan guru dalam pengembangan kurikulum, kurikulum sosialisasi dan diseminasi dikembangkan, dan pemantauan rutin implementasi nya.
Pemerintah pusat telah mengembangkan standar nasional kurikulum berbasis sekolah untuk SMP. Standar kompetensi nasional kemudian akan diuraikan menjadi kompetensi dasar yaitu kompetensi minimum yang harus dilakukan oleh siswa, yang meliputi afektif, kognitif dan psikomotor kompetensi. Dengan demikian, Pemerintah Indonesia telah mengembangkan pembelajaran dan pengajaran kontekstual (CTL) sebagai salah satu pendekatan untuk mendukung implementasi Kurikulum Berbasis Sekolah.

Review 30

Supporting Evidences And Monitoring To
Develop School-Based Curriculum For Junior High School Mathematics In
                                                                       Indonesia                         
Marsigit
Departmen of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science,
Yogyakarta State University, Indonesia
marsigitina@yahoo.com


Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Masyarakat Indonesia mengalami perubahan yang sangat cepat dari semua aspek kehidupan. Hal ini menawarkan harapan dan tantangan. Kurikulum berbasis sekolah menjadi titik awal untuk guru matematika di Indonesia mencerminkan dan memindahkan paradigma mengajar lama mereka. Hal ini mendorong para guru untuk mengevaluasi kekuatan dan kelemahan dari pendekatan yang berbeda dalam rangka untuk membuat pilihan informasi dan harus siap untuk belajar keterampilan baru dalam pembelajaran matematika guna menciptakan kepentingan pengajaran yang efektif. Melalui kurikulum baru, guru harus mampu mengidentifikasi masing-masing anak sebagai kebutuhan karena pengalaman kurikuler yang relevan dan keterampilan anak-anak sangat bervariasi dan mereka membutuhkan posisi yang lebih baik untuk memanfaatkan layanan dukungan untuk meningkatkan praktik kelas mereka. Pengelolaan berbagai layanan dukungan harus tersedia untuk memaksimalkan efeknya dalam membantu guru untuk bekerja menuju praktek yang baik dan untuk menerapkan kurikulum yang baru. Hal ini juga memberikan kesempatan kepada pejabat pemerintah pendidikan di Indonesia untuk melihat secara mendalam pelaksanaan kurikulum di tingkat kelas.
Pemantauan pelaksanaan kurikulum berbasis sekolah menunjukkan bahwa ada faktor-faktor dari siswa, guru, dan masyarakat yang belum optimal mendukung kurikulum baru. Hasil evaluasi pelaksanaan kurikulum baru ini mengajarkan bahwa ketika mengoperasikan kurikulum, akan selalu butuh untuk memperbaikinya. Hal ini juga menyarankan bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika, pemerintah pusat perlu: mendefinisikan peran guru yaitu mereka harus memfasilitasi siswa belajar, mendefinisikan peran kepala sekolah yaitu mereka harus mendukung pengembangan profesional guru dengan memungkinkan mereka untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam kegiatan ilmiah, pertemuan-pertemuan dan pelatihan,  mendefinisikan kembali peran sekolah yaitu harus mempromosikan manajemen berbasis sekolah, mendefinisikan peran pengawas yaitu pengawas perlu memiliki latar belakang yang sama dengan para guru yang mereka awasi agar mampu melakukan supervisi akademik, mempromosikan kolaborasi yang lebih baik antara sekolah dan universitas, dan mendefinisikan sistem evaluasi nasional.

Review 29

Developing ICT for Primary and Secondary Mathematics Teacher
Professional Development: The Use of VTR in Lesson Study
Marsigit
Faculty of Mathematics and Science, the State University of Yogyakarta,
Indonesia


Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(
http://felisitassayekti.blogspot.com)
                                          
Penggunaan video tape recorder (VTR) adalah salah satu aspek pengembangan ICT untuk mempromosikan pengembangan guru profesional. Penggunaan VTR diadopsi dari Jepang. Program pelatihan mengenai VTR pun dilakukan di Indonesia. Konteks Jepang yakni mengajar matematika melalui VTR dalam program pelatihan dianggap baik dan berguna oleh guru. Persepsi guru yang mengikuti pelatihan mengenai VTR yakni: VTR adalah model yang baik untuk mengajar matematika, VTR perlu disosialisasikan kepada guru-guru lain, guru yang mengikuti npelatihan akan membahas  VTR ke rekan-rekan mereka setelah pelatihan, pengajaran VTR adalah model yang baik tetapi masih ada beberapa kendala untuk melaksanakannya yakni kurangnya waktu, kesiapan siswa, batas anggaran, dan fasilitas pendidikan. Para guru menyatakan bahwa mereka optimis mampu menerapkan model pengajaran baik oleh waktu tambahan mengajar dan mengembangkan persiapan pelajaran.
Menurut guru, sebagian besar siswa tidak siap atau tidak mampu menyajikan ide-ide mereka dan siswa membutuhkan waktu lebih banyak untuk melakukannya. Tantangan tersulit untuk menerapkan model yang baik seperti praktek mengajar adalah tentang alokasi waktu. Beberapa guru merasakan bahwa tidak mudah untuk menyeimbangkan antara pencapaian kompetensi siswa dan proses mereka belajar. Para guru berharap bahwa sekolah dan pemerintah mendukung pengembangan profesional mereka termasuk kesempatan untuk mendapatkan pelatihan, berpartisipasi dalam konferensi, dan klub guru. Para guru merasa bahwa di klub guru, mereka dapat mendiskusikan dan mengembangkan rencana pelajaran dan lembar kerja siswa. Guru menyarankan bahwa program pengembangan profesional guru harus didasarkan pada keperluan guru. Bahkan jika tidak mungkin untuk menentukan strategi tunggal untuk mempromosikan mengajar matematika yang baik, belajar dari VTR, ada beberapa indikasi umum yang dapat diuraikan:
1.      Kerjasama di antara para guru, peneliti dalam teknologi pendidikan dan dalam mata pelajaran disiplin, administrator, pelatih, orang tua, dll
2.      Mempromosikan koleksi, dokumentasi, dan difusi contoh-contoh praktek yang baik.
3.      Mempromosikan studi model untuk penyebaran yang efektif dari proyek percontohan yang sukses untuk memastikan para guru menyadari potensi teknologi yang mendukung pembelajaran.
4.      Mempromosikan perubahan kurikuler, menggeser fokus dari pengetahuan sebagai seperangkat konten untuk pengetahuan sebagai integrasi proses dan keterampilan.
5.      Mempromosikan beberapa tindakan dari pemerintah untuk membangun ITC pendidikan.
6.      Mendorong guru untuk mengembangkan penggunaan ITC / VTR dalam pengembangan profesional mereka.

Jumat, 04 November 2011

Review 28

KEGIATAN PENELITIAN SEBAGAI USAHA UNTUK
MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU
MATEMATIKA
Oleh:
Dr. Marsigit


Reviewed by: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Approach to mathematics education research can be done in various ways including quantitative research. Quantitative studies of mathematics learning to rely on the scientific method to find rules, laws and principles concerning the reality of learning mathematics in school. Mathematics education research became a necessity when the teacher wants renewal of mathematics education. Apart from the formal legal aspects of mathematics education research activities either by teachers, lecturers as well as by prospective teachers will provide many benefits. With the mathematics education research, can know the different individuals or groups in the study of mathematics. Teachers can determine the position of students in the group and compare learning outcomes between groups. Teachers can do a match between objectives and results of learning outcomes; The results of the research can be used for refining the program, counseling, provision of information to the public. in addition, teachers can do a comparison between the activities and criteria for each dimension of the program and refining the program and the inference results of mathematics education as a whole. Furthermore, it can be done a study on the implementation of the program, the environmental impact study, the influence of the program, curriculum or syllabus of learning outcomes, and for the improvement of mathematics education program as a whole.
Before learning of mathematics held, teachers do the following things as a preparatory step:
  1. Planning for mathematics learning environment determine the source of the necessary teaching planning activities that are flexible plan the physical environment of learning mathematics involve students in creating a mathematical learning environment
  2. Develop students' social environment to work together to plan activities encourage students to respect each other students explore feelings about math develop mathematical models.
  3. Plan mathematical activities plan mathematical activities are balanced in terms of: material, time, trouble, and activity plan mathematical activities that are open (open-ended) plan activities according to student ability

Review 27

REVITALISASI PENDIDIKAN MATEMATIKA”
Oleh : Marsigit
(FPMIPA IKIP YOGYAKARTA)


Reviewed by: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Revitalization of mathematics education is an effort in the direction of mathematics education which practitioners are given the opportunity to conduct self-reflection, to then be faced with a multi-entry decision stance on the basis of in-depth study of a new paradigm has to offer. Revitalization of mathematics education tried to put the important role of teachers to make math education more appropriate to educate in the sense of meaning in truth and nature of science which is the object of learning itself. Until now, there has been no agreement on how best how to teach mathematics. Revitalization of mathematics education should depart from the self-reflection and reflection of individual educators factual conditions of practice learning. Learning mathematics provide an opportunity for teachers to use the choice of teaching methods that are tailored to student ability level and the material ajarnya as follows: method of exposition by the teacher; method of discussion, between teachers and pupils and between pupils and students; method of problem solving (problem solving); method discovery (investigation); basic skills training methods and principles.; and methods of implementation. Guidelines for the revitalization of mathematics education in the form of the basic assumptions of learning mathematics as follows:
  1. Mathematics is the search activity patterns and relationships.
  2. Mathematics is the creativity that requires imagination, intuition and invention.
  3. Mathematics is a problem solving activity
  4. Mathematics is a tool to communicate
  5. Mathematics Teaching Materials include: The facts: - information;-name;-term; convention, meaning (concepts): building a sense of structure; role of understanding the structure; conservation, the set, relationship patterns, sequences, models, operations, algorithms, Skills algorithms, reasoning skills, problem-solving skills, and Skills of Investigation (Investigation)
    Potential students can develop optimally, then:
  1. Pupils will learn if given the motivation.
  2. Students learn in their own way
  3. Students learn independently and through collaboration
  4. Pupils need the context and situations vary in their learning
    That teachers are better able to realize the revitalization of mathematics learning that fosters student creativity in organizing the learning of mathematics, through the preparation stage, the stage of learning, and evaluation stages.

Review 26

GOOD PRACTICE OF MATHEMATICS TEACHING
THROUGH LESSON STUDY AND TEACHERS
PROFESSIONAL DEVELOPMENT
By:
Dr. Marsigit
Department of Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Science, the
Yogyakarta State University

Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Pada tahun 2005, di bawah kerjasama antara Pemerintah Indonesia (GOI) dan JICA Jepang, tiga universitas di Indonesia yakni UPI Bandung, UNY Yogyakarta dan UM Malang melaksanakan proyek IMSTEP-JICA untuk mengetahui praktik mengajar matematika yang baik dengan memberdayakan dan mengembangkan pendidikan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbaikan dari praktek mengajar matematika sekunder dalam hal metodologi pengajaran, kompetensi guru, prestasi siswa, evaluasi alternatif, sumber pengajaran pembelajaran dan silabus.
Peningkatan kualitas pengajaran adalah salah satu tugas yang paling penting dalam meningkatkan standar pendidikan di Indonesia. Program-program yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas pengajaran adalah perbaikan kualitas guru, penyediaan fasilitas belajar dan peralatan; peningkatan kurikulum untuk pendidikan dasar, serta pengembangan dan pemanfaatan teknologi komunikasi untuk pendidikan guna mendukung proses belajar mengajar. Peningkatan kualitas pengajaran menjadi salah satu masalah mendasar dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Belajar mengajar matematika melibatkan pengajaran berbagai bidang pengetahuan dan berbagai macam keterampilan. Ketika pengetahuan baru atau keterampilan yang diperlukan untuk memecahkan masalah datang, siswa perlu mengembangkan sikap matematika mereka. Lesson Study sebagai model pengembangan profesional yang dirancang untuk membantu guru dalam memproduksi rencana pelajaran yang berkualitas dan memperoleh pemahaman yang lebih baik dari pembelajaran matematika primer dan sekunder dan ilmu pengetahuan. Guru meningkatkan praktek belajar mengajar untuk menemukan metode yang lebih tepat dalam memfasilitasi siswa belajar. Tujuan khusus dari kegiatan Lesson Study adalah: mengembangkan instrumen dan peralatan untuk proses belajar mengajar, mengembangkan metode pengajaran dan model untuk proses pembelajaran, mengembangkan materi mengajar untuk proses pembelajaran, dan mengembangkan evaluasi mengajar untuk proses belajar mengajar.
Hasil Lesson Study dapat disimpulkan dari pandangan siswa, guru, dan dosen. Guru merasa bahwa Lesson Study memberi hasil positif karena meningkatkan profesionalisme guru dalam menemukan variasi pengajaran pendekatan dan metode pengajaran. Guru perlu untuk merencanakan skenario mengajar untuk merencanakan kegiatan siswa. Peran guru yakni merencanakan, mendistribusikan tugas, mengembangkan metode penilaian, dan memantau kemajuan prestasi siswa.
Proyek Lesson Study terbukti sangat efektif dalam mengangkat semangat siswa dalam belajar, membantu siswa untuk mengembangkan eksperimental mereka dan keterampilan diskusi, dan memberikan kesempatan kepada siswa dalam mengembangkan konsep ilmiah mereka sendiri.

Review 25

DEVELOPING MATHEMATICS CURRICULUM
FOR JUNIOR HIGH SCHOOL IN INDONESIA
By
Marsigit
Faculty of Mathematics and Science, the State University of Yogyakarta, Indonesia


Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Upaya untuk meningkatkan pendidikan matematika di Indonesia meliputi kerjasama untuk melaksanakan kegiatan piloting mengajar matematika di sekolah menengah pertama di beberapa negara. Hasil kegiatan piloting bahwa untuk meningkatkan pengajaran matematika dan sains di Indonesia perlu: mengimplementasikan kurikulum yang lebih cocok yaitu lebih sederhana dan fleksibel, mendefinisikan peran guru yaitu guru harus memfasilitasi siswa belajar, mendefinisikan kembali peran kepala sekolah, mendefinisikan kembali peran sekolah, mendefinisikan peran pengawas, peningkatan otonomi guru dalam mencoba menerapkan inovasi dalam mengajar matematika dan ilmu pengetahuan dan pembelajaran, dan mempromosikan kolaborasi yang lebih baik antara sekolah dan universitas; komunikasi antara dosen dan guru harus ditingkatkan melalui penelitian tindakan kolaboratif dan bertukar pengalaman melalui seminar dan lokakarya.
Kegiatan matematika harus dipilih dengan cermat sehingga anak-anak membentuk konsep, mengembangkan keterampilan, mempelajari fakta-fakta dan memperoleh strategi untuk menyelidiki dan memecahkan masalah. Matematika adalah mencari pola dan hubungan; matematika adalah aktivitas kreatif, yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan; matematika adalah cara pemecahan masalah; dan matematika merupakan sarana mengkomunikasikan informasi atau ide-ide.
Standar Kompetensi Nasional Matematika untuk Sekolah Menengeah Pertama meliputi: Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Probabilitas dan Statistik, seta Aljabar. Usulan Kurikulum Nasional Matematika SMP terdiri dari topik-topik berikut: Bilangan Bulat, Aljabar dan Aritmatika Sosial, Persamaan linear satu variabel, Proporsi, Garis dan Sudut, Bentuk Tiga Dimensi, Himpunan, Faktorisasi aljabar, Teorema Pythagoras, Baris Segitiga, Lingkaran, Fungsi, Persamaan garis lurus, Sistem Persamaan Linear dengan Dua variabel, Statistik dan Probabilitas, Eksponen negatif, Logaritma, Persamaan Kuadrat, dan Pola Bilangan.
Guru perlu mengevaluasi kekuatan dan kelemahan dari pendekatan yang berbeda dalam rangka untuk membuat pilihan informasi dan siap untuk belajar keterampilan baru dalam pembelajaran matematika demi kepentingan pengajaran yang efektif. Guru harus mampu untuk menanggapi masing-masing anak sebagai kebutuhan yang diidentifikasi karena pengalaman kurikuler yang relevan dan keterampilan anak-anak sangat bervariasi dan mereka membutuhkan posisi yang lebih baik untuk memanfaatkan layanan dukungan untuk meningkatkan praktik kelas. Pengelolaan berbagai layanan dukungan harus tersedia untuk memaksimalkan efeknya dalam membantu guru untuk bekerja menuju praktek yang baik dan untuk menerapkan kurikulum yang baru.