Refleksi
Kedelapanku
Refleksi
kedelapan ini adalah refleksi terakhir karena perkuliahan mata kuliah Filsafat
Pendidikan Matematika untuk tahun 2012 telah berakhir pada tanggal 21 Desember
2012. Dalam kesempatan kuliah ini, Dosen filsafat pendidikan matematika kami
yakni Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjelaskan terkait presentasi internasional
yang beliau susun di Chiang Mei tahun 2010. Presentasi berjudul “The IceBerg
Approach of Learning Pleasure in Junior High School: Teacher Reflect”. Ice berg
approach (pendekatan gunung es) adalah gunung es dari realistik matematis.
Dalam ice berg approach, tingkatan dari yang paling dasar hingga tertinggi
adalah matematika konkret, model konkret, model formal, dan matematika formal. Matematika
konkret adalah yang dilihat oleh manusia dalam kehidupan sehari-harinya.
Setelah digambar dan difoto, matematika konkret menjadi model konkret. Setelah sampai pada
bentuk penjumlahan menyebabkan menjadi bentuk formalnya. Di Indonesia tidak ada
gunung es tetapi ada gunung berapi. Setiap daerah berusaha agar harmonik dengan
alam termasuk dengan gunung. Sebagai contoh, Yogyakarta sangat berusaha agar
harmoni dengan gunung Merapi. Metafisik gunung Merapi yakni di balik gunung ada
kekuasaan Tuhan.
Filsafat digunakan
dalam apa saja termasuk dalam pembelajaran matematika. Hermenitika digunakan
dalam kehidupan sehari-hari karena hermenitika adalah komunikasi yang lurus dan
berimbang. Lurus berarti tidak akan melakukan hal yang sama karena menembus
ruang dan waktu. Hal ini membutuhkan kesadaran. Setiap manusia memiliki
kesadaran yang berbeda karena tergantung ruang dan waktunya. Kesadaran antara
astronot dan presiden juga berbeda. Beribadah juga merupakan tindakan yang
menembus ruang dan waktu. Hermenitika berbentuk melingkar seperti yang di atas
guru yang di bawah murid, yang di atas para filusuf dan yang di bawah adalah
kita, dan lain sebagainya. Hermenitika meliputi hal-hal yang ada dan yang
mungkin ada. Hermenitika binatang dan tumbuhan juga terjadi ketika induk burung memberi makan anak-anaknya atau ketika
tumbuhan berhemenitika terhadap sinar matahari. Hermenitika sangatlah penting.
Mahasiswa perlu memelajari hermenitika. Hermenitika ada yang bersifat rutin dan
mengembangkan diri yakni mengadakan yang mungkin ada dan membisakan yang
mungkin bisa seperti pengalaman, konsep, dan lain-lain. Hermenitika pun terjadi
saat manusia hidup dan mati. Di dalam alam kubur pun, ada hermenitika.
Sebagai calon guru
matematika, mahasiswa harus menyadari bahwa dalam membelajarkan matematika di
sekolah kelak, matematika haruslah dekat dengan kehidupan siswa sehingga
terbentuklah intuisi siswa dalam matematika. Mahasiswa kelak diharapkan
mengajarkan matematika dengan didahului apersepsi agar siswa merasa siap
memelajari matematika. Kesiapan siswa dalam belajar matematika menyebabkan
siswa merasa bergembira belajar matematika. Agar intuisi berkembang, harus
didahului oleh kesadaran. Intuisi terbentuk semenjak manusia masih bayi. Ia
mampu mengenali banyak, sedikit, cantik, tidak cantik, enak, tidak enak, dan
lain-lain. Anak kecil pun sebenarnya telah mampu untuk memikirkan peluang. Lama
kelamaan, anak kecil akan berkembang menjadi apodikti. Belajar matematika dapat
melalui silaturahim.
Contoh manusia
kehilangan intuisi adalah saat manusia menutup mata. Ia kehilangan intuisi
ruang karena tidak dapat melihat ruang. Namun, hal ini tidaklah mutlak karena
manusia masih dapat mengingat dan mengenali ruang dengan indra lain yang
dimilikinya.
Pada kenyataannya di
sekolah sekarang, kaum absolutis masih menguasai pendidikan di sekolah. Pure
mathematics yang diajarkan di sekolah akan mematikan intuisi matematika siswa.
Hal ini sangatlah tidak bijak mengingat pure mathematics dan matematika sekolah
sangatlah berbeda. Apabila siswa diajarkan pure mathematics, siswa menjadi
tidak bernurani dan kehilangan intuisi. Siswa dapat melakukan tindakan-tindakan
kriminal dengan mudahnya karena telah kehilangan intuisi. Siswa tidak boleh
dipandang sebagai “empty vessel” karena siswa bukanlah objek pembelajaran yang
harus selalu mendengarkan penjelasan dari guru. Siswa seharusnya difasilitasi
agar aktif dalam kegiatan pembelajaran dan berbuah. Guru janganlah menerapkan
matematika formal tetapi hendaknya school mathematics. Siswa memiliki berbagai
macam metode untuk menyelesaikan soal sehingga guru tidak boleh menyalahkan
apabila cara yang digunakan siswa berbeda dengan yang diajarkannya.
Tugas mahasiswa sebagai
calon guru adalah merebut kembali hal-hal yang telah hilang. Mahasiswa harus
menciptakan kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kembali intuisi siswa
dalam belajar matematika. Realistik matematika adalah yang paling cocok
digunakan dan diajarkan di sekolah. Guru dapat menerapkan berbagai macam metode
pembelajaran yang bertujuan untuk mengonstruksi pemahaman siswa.
Mahasiswa juga dituntut
untuk selalu berpikir kritis dan kreatif, tidak menjadi insan yang toleran
karena toleran dalam dunia pendidikan diartikan sebagai insan yang tidak
mengerti apapun. Berpikir kritis dan fanatik sangatlah penting dalam menghadapi
masalah kehidupan sehari-hari dan bernegara. Bila tidak menjadi manusia yang
kritis dan fanatik dan hanya selalu toleran, lama kelamaan dunia akan menjadi
dunia yang satu.
Fenomena dalam filsafat
adalah hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Setiap manusia haruslah pintar
memilah suatu hal dan yang tidak perlu dipikirkan dimasukkan ke dalam rumah
epoke. Hal-hal baik yang hanya dipikirkan dan tidak disimpan dalam rumah epoke.
Hal ini sama halnya dengan apabila manusia telah memiliki pasangan hidup, ia
hanya akan melihat kebaikan dan kelebihan pasangannya sementara kekurangan
pasangannya dimasukkan ke dalam rumah epoke. Manusia dituntut untuk mampu
berkomunikasi sesuai dengan ruang dan waktunya agar tidak menyinggung perasaan
manusia lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar