Minggu, 06 Januari 2013

Refleksi Kedelapanku


Refleksi Kedelapanku

          Refleksi kedelapan ini adalah refleksi terakhir karena perkuliahan mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika untuk tahun 2012 telah berakhir pada tanggal 21 Desember 2012. Dalam kesempatan kuliah ini, Dosen filsafat pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjelaskan terkait presentasi internasional yang beliau susun di Chiang Mei tahun 2010. Presentasi berjudul “The IceBerg Approach of Learning Pleasure in Junior High School: Teacher Reflect”. Ice berg approach (pendekatan gunung es) adalah gunung es dari realistik matematis. Dalam ice berg approach, tingkatan dari yang paling dasar hingga tertinggi adalah matematika konkret, model konkret, model formal, dan matematika formal. Matematika konkret adalah yang dilihat oleh manusia dalam kehidupan sehari-harinya. Setelah digambar dan difoto, matematika konkret  menjadi model konkret. Setelah sampai pada bentuk penjumlahan menyebabkan menjadi bentuk formalnya. Di Indonesia tidak ada gunung es tetapi ada gunung berapi. Setiap daerah berusaha agar harmonik dengan alam termasuk dengan gunung. Sebagai contoh, Yogyakarta sangat berusaha agar harmoni dengan gunung Merapi. Metafisik gunung Merapi yakni di balik gunung ada kekuasaan Tuhan. 
Filsafat digunakan dalam apa saja termasuk dalam pembelajaran matematika. Hermenitika digunakan dalam kehidupan sehari-hari karena hermenitika adalah komunikasi yang lurus dan berimbang. Lurus berarti tidak akan melakukan hal yang sama karena menembus ruang dan waktu. Hal ini membutuhkan kesadaran. Setiap manusia memiliki kesadaran yang berbeda karena tergantung ruang dan waktunya. Kesadaran antara astronot dan presiden juga berbeda. Beribadah juga merupakan tindakan yang menembus ruang dan waktu. Hermenitika berbentuk melingkar seperti yang di atas guru yang di bawah murid, yang di atas para filusuf dan yang di bawah adalah kita, dan lain sebagainya. Hermenitika meliputi hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Hermenitika binatang dan tumbuhan juga terjadi ketika induk  burung memberi makan anak-anaknya atau ketika tumbuhan berhemenitika terhadap sinar matahari. Hermenitika sangatlah penting. Mahasiswa perlu memelajari hermenitika. Hermenitika ada yang bersifat rutin dan mengembangkan diri yakni mengadakan yang mungkin ada dan membisakan yang mungkin bisa seperti pengalaman, konsep, dan lain-lain. Hermenitika pun terjadi saat manusia hidup dan mati. Di dalam alam kubur pun, ada hermenitika.
Sebagai calon guru matematika, mahasiswa harus menyadari bahwa dalam membelajarkan matematika di sekolah kelak, matematika haruslah dekat dengan kehidupan siswa sehingga terbentuklah intuisi siswa dalam matematika. Mahasiswa kelak diharapkan mengajarkan matematika dengan didahului apersepsi agar siswa merasa siap memelajari matematika. Kesiapan siswa dalam belajar matematika menyebabkan siswa merasa bergembira belajar matematika. Agar intuisi berkembang, harus didahului oleh kesadaran. Intuisi terbentuk semenjak manusia masih bayi. Ia mampu mengenali banyak, sedikit, cantik, tidak cantik, enak, tidak enak, dan lain-lain. Anak kecil pun sebenarnya telah mampu untuk memikirkan peluang. Lama kelamaan, anak kecil akan berkembang menjadi apodikti. Belajar matematika dapat melalui silaturahim.
Contoh manusia kehilangan intuisi adalah saat manusia menutup mata. Ia kehilangan intuisi ruang karena tidak dapat melihat ruang. Namun, hal ini tidaklah mutlak karena manusia masih dapat mengingat dan mengenali ruang dengan indra lain yang dimilikinya.
Pada kenyataannya di sekolah sekarang, kaum absolutis masih menguasai pendidikan di sekolah. Pure mathematics yang diajarkan di sekolah akan mematikan intuisi matematika siswa. Hal ini sangatlah tidak bijak mengingat pure mathematics dan matematika sekolah sangatlah berbeda. Apabila siswa diajarkan pure mathematics, siswa menjadi tidak bernurani dan kehilangan intuisi. Siswa dapat melakukan tindakan-tindakan kriminal dengan mudahnya karena telah kehilangan intuisi. Siswa tidak boleh dipandang sebagai “empty vessel” karena siswa bukanlah objek pembelajaran yang harus selalu mendengarkan penjelasan dari guru. Siswa seharusnya difasilitasi agar aktif dalam kegiatan pembelajaran dan berbuah. Guru janganlah menerapkan matematika formal tetapi hendaknya school mathematics. Siswa memiliki berbagai macam metode untuk menyelesaikan soal sehingga guru tidak boleh menyalahkan apabila cara yang digunakan siswa berbeda dengan yang diajarkannya.
Tugas mahasiswa sebagai calon guru adalah merebut kembali hal-hal yang telah hilang. Mahasiswa harus menciptakan kegiatan pembelajaran yang dapat menumbuhkan kembali intuisi siswa dalam belajar matematika. Realistik matematika adalah yang paling cocok digunakan dan diajarkan di sekolah. Guru dapat menerapkan berbagai macam metode pembelajaran yang bertujuan untuk mengonstruksi pemahaman siswa. 
Mahasiswa juga dituntut untuk selalu berpikir kritis dan kreatif, tidak menjadi insan yang toleran karena toleran dalam dunia pendidikan diartikan sebagai insan yang tidak mengerti apapun. Berpikir kritis dan fanatik sangatlah penting dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari dan bernegara. Bila tidak menjadi manusia yang kritis dan fanatik dan hanya selalu toleran, lama kelamaan dunia akan menjadi dunia yang satu.
Fenomena dalam filsafat adalah hal-hal yang ada dan yang mungkin ada. Setiap manusia haruslah pintar memilah suatu hal dan yang tidak perlu dipikirkan dimasukkan ke dalam rumah epoke. Hal-hal baik yang hanya dipikirkan dan tidak disimpan dalam rumah epoke. Hal ini sama halnya dengan apabila manusia telah memiliki pasangan hidup, ia hanya akan melihat kebaikan dan kelebihan pasangannya sementara kekurangan pasangannya dimasukkan ke dalam rumah epoke. Manusia dituntut untuk mampu berkomunikasi sesuai dengan ruang dan waktunya agar tidak menyinggung perasaan manusia lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar