Minggu, 18 November 2012

Refleksi Pertama


Refleksi Hakikat Matematika

Filsafat pendidikan matematika berasal dari filsafat dan pendidikan matematika. Filsafat adalah olah pikir yang refleksif sehingga mahasiswa diharuskan untuk mengungkapkan kembali setiap perkuliahan yang telah dijalaninya dalam kalimatnya sendiri. Mahasiswa dapat memikirkan apapun walaupun terbatas dengan berfilsafat. Filsafat dekat dengan kehidupan mahasiswa tetapi juga dapat menjauh. Berfilsafat adalah berinteraksi yang refleksif. Filsafat memuat tentang adab/tata cara dan orang yang mengenal tata cara disebut orang yang beradab. Orang yang biadab adalah orang yang tidak mengenal adab/tata cara. Berfilsafat memiliki banyak tata cara/adab. Adab pertama dalam berfilsafat adalah setinggi-tinggi berfilsafat tidak boleh melebihi spiritualitas. Mahasiswa tidak boleh mengungkapkan misteri Tuhan karena hal tersebut akan menyalahi adab manusia. Dasar berfilsafat adalah berdoa.
Adab yang kedua adalah filsafat tersebut hidup. Metode berfilsafat adalah metode hidup yang sehat sehingga untuk berfilsafat dibutuhkan tubuh dan jiwa yang sehat/tidak dalam keadaan sakit. Agar hidup sehat, dibutuhkan hidup yang harmonik/seimbang sehingga bahagia. Hidup yang seimbang harus memikirkan antara kebutuhan duniawi dan akhirat. Bahasa filsafat adalah bahasa analog yang lebih tinggi tingkatannya daripada bahasa kiasan. Dalam berfilsafat, ada benda-benda yang ada dan yang mungkin ada. Benda-benda yang ada dalam filsafat adalah hal-hal yang mampu untuk dilihat, diraba, didengar, dan yang sudah diketahui. Benda-benda yang mungkin ada adalah benda-benda yang belum diketahui. Dalam berfilsafat dibutuhkan pembelajaran mengenai terjemah dan menterjemahkan. Semua hal dalam dunia mengalami interaksi. Mahasiswa berinteraksi dengan mempelajari elegi-elegi yang telah ditulis oleh Bapak Marsigit.
Adab ketiga dalam berfilsafat adalah berinteraksi refleksif dan berpikir refleksif. Mahasiswa berinteraksi refleksif dengan membaca setiap elegi yang ada dan membuat komentar. Elegi-elegi tersebut membantu mahasiswa untuk berpikir refleksif dan mampu untuk berfilsafat secara sehat. Adab selanjutnya adalah berfilsafat dimulai dari pertanyaan-pertanyaan. Berfilsafat berasal dari setiap hal-hal yang sepele dan dianggap tidak penting oleh orang lain.

Pertanyaan:
1.      Mengapa tidak semua orang dapat berfilsafat secara sehat?
2.      Mengapa ada orang-orang yang berpikir bahwa berfilsafat adalah hal yang tidak penting?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar