Refleksi Hakikat Matematika
Filsafat pendidikan
matematika berasal dari filsafat dan pendidikan matematika. Filsafat adalah
olah pikir yang refleksif sehingga mahasiswa diharuskan untuk mengungkapkan
kembali setiap perkuliahan yang telah dijalaninya dalam kalimatnya sendiri. Mahasiswa
dapat memikirkan apapun walaupun terbatas dengan berfilsafat. Filsafat dekat
dengan kehidupan mahasiswa tetapi juga dapat menjauh. Berfilsafat adalah
berinteraksi yang refleksif. Filsafat memuat tentang adab/tata cara dan orang
yang mengenal tata cara disebut orang yang beradab. Orang yang biadab adalah
orang yang tidak mengenal adab/tata cara. Berfilsafat memiliki banyak tata
cara/adab. Adab pertama dalam berfilsafat adalah setinggi-tinggi berfilsafat
tidak boleh melebihi spiritualitas. Mahasiswa tidak boleh mengungkapkan misteri
Tuhan karena hal tersebut akan menyalahi adab manusia. Dasar berfilsafat adalah
berdoa.
Adab yang kedua adalah
filsafat tersebut hidup. Metode berfilsafat adalah metode hidup yang sehat
sehingga untuk berfilsafat dibutuhkan tubuh dan jiwa yang sehat/tidak dalam
keadaan sakit. Agar hidup sehat, dibutuhkan hidup yang harmonik/seimbang
sehingga bahagia. Hidup yang seimbang harus memikirkan antara kebutuhan duniawi
dan akhirat. Bahasa filsafat adalah bahasa analog yang lebih tinggi
tingkatannya daripada bahasa kiasan. Dalam berfilsafat, ada benda-benda yang
ada dan yang mungkin ada. Benda-benda yang ada dalam filsafat adalah hal-hal
yang mampu untuk dilihat, diraba, didengar, dan yang sudah diketahui. Benda-benda
yang mungkin ada adalah benda-benda yang belum diketahui. Dalam berfilsafat
dibutuhkan pembelajaran mengenai terjemah dan menterjemahkan. Semua hal dalam
dunia mengalami interaksi. Mahasiswa berinteraksi dengan mempelajari elegi-elegi
yang telah ditulis oleh Bapak Marsigit.
Adab ketiga dalam
berfilsafat adalah berinteraksi refleksif dan berpikir refleksif. Mahasiswa
berinteraksi refleksif dengan membaca setiap elegi yang ada dan membuat
komentar. Elegi-elegi tersebut membantu mahasiswa untuk berpikir refleksif dan
mampu untuk berfilsafat secara sehat. Adab selanjutnya adalah berfilsafat
dimulai dari pertanyaan-pertanyaan. Berfilsafat berasal dari setiap hal-hal
yang sepele dan dianggap tidak penting oleh orang lain.
Pertanyaan:
1.
Mengapa tidak semua orang dapat
berfilsafat secara sehat?
2.
Mengapa ada orang-orang yang berpikir
bahwa berfilsafat adalah hal yang tidak penting?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar