Refleksi
Keempatku
Filsafat adalah olah pikir meliputi olah
pikir individu, masyarakat di dunia, dan lain-lain. Ada bermacam-macam aliran
dalam filsafat. Aliran filsafat diberi nama tergantung dari objeknya,nama
tokohnya, sifat bendanya, dan aktivitasnya. Aliran filsafat yang diberi nama berdasar dari
objeknya adalah filsafat alam karena objeknya adalah alam. Objek filsafat yang
berkaitan dengan spiritual maka disebut filsafat spiritual. Objek filsafat ada
di dalam dan di luar pikiran. Objek di luar pikiran dapat dilihat, didengar,
dan diraba. Sifat objek di luar pikiran adalah berubah. Filsafatnya yakni idealisme.
Tokohnya yakni Aristoteles. Objek di dalam pikiran adalah objek yang dipikirkan
dalam pikiran dan bersifat tetap. Tokohnya yakni Plato. Manusia hendaknya selalu
bersyukur kepada Tuhan dan meletakkan spiritualitas di atas segala-galanya. Aliran
yang sesuai dengan tokohnya yakni
Hegelianism adalah tokoh yang mengatakan yang ada dan yang mungkin ada adalah
sejarah. Dialektisism adalah filsafat dari bertanya. Monoisme adalah Tuhan
karena yang benar adalah satu hanyalah Tuhan. Pluralism adalah filsafat terkait
benda-benda yang banyak. Dualism adalah filsafat untuk yang benar adalah dua.
Dualism sering ditemui dalam masyarakat Indonesia yakni meliputi benar-salah,
baik-buruk, dan lain-lain. Aliran objektivisme adalah kebenaran yang berasal
dari objeknya. Lawan dari objektivisme yakni subjektivisme. Subjektivisme
adalah filsafat kebenaran yang berasal dari diri sendiri.
Manusia adalah makhluk yang terbatas dan
tidak sempurna. Manusia tidak dapat hidup di air dalam waktu terus-menerus,
manusia tidak dapat berlari secepat kilat. Manusia tidak dapat memikirkan
secara pasti kapan ia dapat membedakan antara jauh dan dekat, baik dan buruk,
dan lai-lain. Oleh karena itu, sebaiknya manusia selalu bersyukur kepada Tuhan
dengan mengamalkan perbuatan baik dalam kehidupan sehari-hari. Manusia yang
berintrospeksi sebenarnya menembus ruang dan waktu adalah mengalami perubahan. Filsafat
mengharuskan manusia untuk berpikir rasional yang menembus ruang dan waktu. Ruang
dan waktu berdimensi-dimensi. Dimensi meliputi dimensi satu, dimensi dua,
dimensi tiga, dan seterusnya. Individu yang akan menembus ruang dan waktu
berlandaskan pikiran filusuf. Individu harus mengkorespondensikan pikiran
filusuf terhadap apa yang akan dilakukan di dunia ini. Upaya untuk menembus
ruang dan waktu melewati berbagai dimensi. Diriku, dirimu adalah subjek yang
dapat menembus ruang dan waktu. Ruang adalah pikiran dan meliputi yang ada dan
yang mungkin ada. Untuk mengetahui ruang, individu harus mengetahui waktu dan
begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu, diriku adalah aku yang terbatas ruang dan
waktu. Filsafat adalah normatik yang bila ditingkatkan akan menjadi spiritual. Normatif
termasuk di dalamnya adalah baik-buruk, benar-salah, dan lain-lain. Manusia yang
baik harus bertindak sesuai norma. Manusia yang berilmu adalah manusia yang
sopan santun terhadap ruang dan waktu.
Pertanyaan:
Bagaimana manusia agar peka terhadap
ruang dan waktu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar