Kesempatan memelajari
filsafat adalah kesempatan yang sangat berguna untuk berefleksi dan memikirkan
kegiatan yang telah dilakukan. Filsafat memberikan kesempatan kepada manusia
yang memelajarinya untuk mengembangkan dunianya sehingga mencapai keselamatan
dunia akhirat. Dalam memelajari filsafat, elegi sangatlah penting untuk
membangun kemampuan berpikir refleksif. Untuk membaca elegi, tidak boleh
setengah-setengah dan harus berkelanjutan.
Filsafat berinteraksi
antara makro dan mikro. Makro adalah keseluruhan atau universal. Mikro adalah unsur
kecilnya. Setiap individu dalam berfilsafat selalu terikat ruang dan waktu.
Dalam filsafat, dikenal istilah mitos. Mitos sangatlah penting karena anak
kecil belajar melalui mitos dalam kehidupan sehari-hari. Mitos adalah hal-hal
yang tidak dimengerti oleh anak kecil tetapi mereka melakukannya karena mereka
tidak memikirkan akibat-akibatnya ketika melaksanakan hal-hal tersebut. Mitos
sering kali muncul di dalam pembelajaran matematika yakni ketika siswa tidak
memahami konsep materi matematika yang dipelajarinya namun hanya mengerjakan
latihan-latihan soal yang diberikan oleh guru.
Mitos juga sangatlah
penting untuk orang dewasa. Orang dewasa yang terikat ruang dan waktu dapat
memikirkan sampai sejauh mana maknanya saat ia berdoa dan bersyukur kepada
Tuhan. Saat seseorang hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti makna berdoa, ia
berdoa secara mitos. Sebaiknya, dalam berdoa dan bersyukur kepada Tuhan haruslah
didasarkan pada pemahaman dan kesadaran yang mendalam terhadap makna berdoa
yang dilakukannya.
Dalam kehidupan
sehari-hari, mitos banyak dijumpai dalam cerita-cerita seperti cerita Nyai Roro
Kidu penguasa Laut Selatan di Yogyakarta dan lain-lain. Mitos ini sangatlah
kuat dalam benak masyarakat Yogyakarta. Masyarakat sangat memercayai mitos ini
sejak dahulu kala. Manusia yang memelajari filsafat haruslah berdoa saat berada
dalam perbatasan antara mitos dan keimannya. Mitos sangat cepat menyebarkan
berita buruk kepada manusia. Manusia yang sangat memercayai mitos tidak akan
berani untuk mengucapkannya, memikirkannya dan bahkan melakukan tindakan yang
berhubungan dengan mitos tersebut.
Hidup merentang antara
dua kutub yakni antara yang ada dan yang mungkin ada dan antara yang konkret
dan yang gaib. Mitos juga berhubungan dengan hal-hal gaib dan setan. Manusia
ada yang percaya dan yang tidak percaya terkait hal-hal gaib. Dosen filsafat
pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit, M.A. memiliki pengalaman
terkait hal-hal gaib. Beliau telah mengalami pengalaman terkait hal-hal gaib
sejak masa kecilnya. Saat masa kecilnya, Prof. Dr. Marsigit, M.A. sering
bermain di kuburan. Saat SMA, beliau ingin mengetahui hal-hal apa yang
menyebabkan manusia takut pada kuburan. Beliau menginap di kuburan dua kali.
Beliau berkesimpulan bahwa manusia yang berada di kuburan haruslah sopan dan
santun terhadap ruang dan waktu karena dimensi ruang dan waktu di kuburan
berbeda dan berdimensi. Kuburan adalah ruang spiritual bagi manusia dan tempat
untuk mendoakan keselamatan bagi manusia lain yang sudah meninggal. Setelah
lulus SMA, Prof. Dr. Marsigit, M.A. diminta untuk mendaftarkan diri untuk masuk
STAN di Jakarta oleh orang tuanya. Sebelum berangkat ke Jakarta, beliau diajak
oleh orang tuanya untuk pergi ke Kiai agar diterima masuk STAN. Kiai memberikan
kain putih kecil yang harus disematkan di dada dan tidak boleh dibawa ke tempat
perjudian, toilet, dan dilangkahi. Saat berangkat dan naik kereta api, beliau
bertemu dengan teman. Di kereta api, beliau tertidur. Saat beliau terbangun
dari tidur, beliau kaget bahwa orang-orang di sampingnya sedang main judi.
Beliau keluar dan terjengkang di toilet. Saat turun dari kereta api, beliau
diajak oleh temannya untuk minum kopi. Di belakang tempat Prof. Dr. Marsigit,
M.A. minum kopi, ada para tukang becak
yang sedang main judi. Beliau merenung bahwa mungkin dirinya tidak akan
diterima di STAN. Setelah sampai Jakarta, beliau mengikuti tes STAN. Setelah
selesai, beliau pulang. Dalam perjalanan pulang, beliau lelah dan tidur di
kuburan. Setelah terbangun, beliau sadar bahwa diikuti oleh setan yang berwujud
wanita dengan rambut panjang yang ingin menguji benda yang diberikan oleh Kiai
tersebut. Beliau terkaget-kaget setelah mengetahui bahwa wanita tersebut telah
meninggal beberapa hari yang lalu dan gantung diri.
Setelah pulang dari
Jakarta, Prof. Dr. Marsigit, M.A.
mendaftar di IKIP Yogyakarta dan diterima. Beliau melanjutkan studinya
dan menjadi mahasiswa di IKIP Yogyakarta. Setelah menjadi mahasiswa, beliau
pulang ke Gombong dan saat tertidur melihat benda yang berputar
mengelilinginya. Saat lampu dinyalakan, beliau tidak mendapati apapun. Beliau
juga tidak diberi ilmu oleh dukun sakti di Karangmalang, IKIP Yogyakarta karena
dukunnya tidak berani. Prof. Dr. Marsigit, M.A.
juga sudah diramal oleh seorang pastur akan menjadi professor. Beliau
mengatakan hal tersebut kepada istrinya. Setelah itu, Prof. Dr. Marsigit,
M.A. mengkhusyukkan doanya dan
berkesimpulan bahwa hal-hal gaib memang ada. Dari pengalaman yang diceritakan
oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A., manusia sebaiknya percaya bahwa hal-hal gaib
memang ada. Manusia tidak dapat memecahkan hal-hal yang gaib walaupun memiliki
ilmu yang tinggi. Manusia dituntut untuk selalu beriman kepada Tuhan dengan
rajin berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Manusia tidak boleh putus asa saat
keinginan yang didoakannya belum dikabulkan oleh Tuhan. Hal-hal yang telah
terjadi adalah hal-hal dan takdir yang terbaik bagi manusia tersebut. Tiada
sekecil yang ada pun yang tidak berharga untuk manusia. Seluruh hal yang ada
dan dialami oleh manusia adalah karunia dari Tuhan bagi manusia.
Pertanyaan:
Apakah pendidikan seseorang memengaruhi
kepekaannya terhadap hal-hal gaib?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar