Minggu, 09 Desember 2012

Refleksi Kelimaku


Kesempatan memelajari filsafat adalah kesempatan yang sangat berguna untuk berefleksi dan memikirkan kegiatan yang telah dilakukan. Filsafat memberikan kesempatan kepada manusia yang memelajarinya untuk mengembangkan dunianya sehingga mencapai keselamatan dunia akhirat. Dalam memelajari filsafat, elegi sangatlah penting untuk membangun kemampuan berpikir refleksif. Untuk membaca elegi, tidak boleh setengah-setengah dan harus berkelanjutan.
Filsafat berinteraksi antara makro dan mikro. Makro adalah keseluruhan atau universal. Mikro adalah unsur kecilnya. Setiap individu dalam berfilsafat selalu terikat ruang dan waktu. Dalam filsafat, dikenal istilah mitos. Mitos sangatlah penting karena anak kecil belajar melalui mitos dalam kehidupan sehari-hari. Mitos adalah hal-hal yang tidak dimengerti oleh anak kecil tetapi mereka melakukannya karena mereka tidak memikirkan akibat-akibatnya ketika melaksanakan hal-hal tersebut. Mitos sering kali muncul di dalam pembelajaran matematika yakni ketika siswa tidak memahami konsep materi matematika yang dipelajarinya namun hanya mengerjakan latihan-latihan soal yang diberikan oleh guru.
Mitos juga sangatlah penting untuk orang dewasa. Orang dewasa yang terikat ruang dan waktu dapat memikirkan sampai sejauh mana maknanya saat ia berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Saat seseorang hanya ikut-ikutan dan tidak mengerti makna berdoa, ia berdoa secara mitos. Sebaiknya, dalam berdoa dan bersyukur kepada Tuhan haruslah didasarkan pada pemahaman dan kesadaran yang mendalam terhadap makna berdoa yang dilakukannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, mitos banyak dijumpai dalam cerita-cerita seperti cerita Nyai Roro Kidu penguasa Laut Selatan di Yogyakarta dan lain-lain. Mitos ini sangatlah kuat dalam benak masyarakat Yogyakarta. Masyarakat sangat memercayai mitos ini sejak dahulu kala. Manusia yang memelajari filsafat haruslah berdoa saat berada dalam perbatasan antara mitos dan keimannya. Mitos sangat cepat menyebarkan berita buruk kepada manusia. Manusia yang sangat memercayai mitos tidak akan berani untuk mengucapkannya, memikirkannya dan bahkan melakukan tindakan yang berhubungan dengan mitos tersebut.
Hidup merentang antara dua kutub yakni antara yang ada dan yang mungkin ada dan antara yang konkret dan yang gaib. Mitos juga berhubungan dengan hal-hal gaib dan setan. Manusia ada yang percaya dan yang tidak percaya terkait hal-hal gaib. Dosen filsafat pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit, M.A. memiliki pengalaman terkait hal-hal gaib. Beliau telah mengalami pengalaman terkait hal-hal gaib sejak masa kecilnya. Saat masa kecilnya, Prof. Dr. Marsigit, M.A. sering bermain di kuburan. Saat SMA, beliau ingin mengetahui hal-hal apa yang menyebabkan manusia takut pada kuburan. Beliau menginap di kuburan dua kali. Beliau berkesimpulan bahwa manusia yang berada di kuburan haruslah sopan dan santun terhadap ruang dan waktu karena dimensi ruang dan waktu di kuburan berbeda dan berdimensi. Kuburan adalah ruang spiritual bagi manusia dan tempat untuk mendoakan keselamatan bagi manusia lain yang sudah meninggal. Setelah lulus SMA, Prof. Dr. Marsigit, M.A. diminta untuk mendaftarkan diri untuk masuk STAN di Jakarta oleh orang tuanya. Sebelum berangkat ke Jakarta, beliau diajak oleh orang tuanya untuk pergi ke Kiai agar diterima masuk STAN. Kiai memberikan kain putih kecil yang harus disematkan di dada dan tidak boleh dibawa ke tempat perjudian, toilet, dan dilangkahi. Saat berangkat dan naik kereta api, beliau bertemu dengan teman. Di kereta api, beliau tertidur. Saat beliau terbangun dari tidur, beliau kaget bahwa orang-orang di sampingnya sedang main judi. Beliau keluar dan terjengkang di toilet. Saat turun dari kereta api, beliau diajak oleh temannya untuk minum kopi. Di belakang tempat Prof. Dr. Marsigit, M.A.  minum kopi, ada para tukang becak yang sedang main judi. Beliau merenung bahwa mungkin dirinya tidak akan diterima di STAN. Setelah sampai Jakarta, beliau mengikuti tes STAN. Setelah selesai, beliau pulang. Dalam perjalanan pulang, beliau lelah dan tidur di kuburan. Setelah terbangun, beliau sadar bahwa diikuti oleh setan yang berwujud wanita dengan rambut panjang yang ingin menguji benda yang diberikan oleh Kiai tersebut. Beliau terkaget-kaget setelah mengetahui bahwa wanita tersebut telah meninggal beberapa hari yang lalu dan gantung diri.
Setelah pulang dari Jakarta, Prof. Dr. Marsigit, M.A.  mendaftar di IKIP Yogyakarta dan diterima. Beliau melanjutkan studinya dan menjadi mahasiswa di IKIP Yogyakarta. Setelah menjadi mahasiswa, beliau pulang ke Gombong dan saat tertidur melihat benda yang berputar mengelilinginya. Saat lampu dinyalakan, beliau tidak mendapati apapun. Beliau juga tidak diberi ilmu oleh dukun sakti di Karangmalang, IKIP Yogyakarta karena dukunnya tidak berani. Prof. Dr. Marsigit, M.A.  juga sudah diramal oleh seorang pastur akan menjadi professor. Beliau mengatakan hal tersebut kepada istrinya. Setelah itu, Prof. Dr. Marsigit, M.A.  mengkhusyukkan doanya dan berkesimpulan bahwa hal-hal gaib memang ada. Dari pengalaman yang diceritakan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A., manusia sebaiknya percaya bahwa hal-hal gaib memang ada. Manusia tidak dapat memecahkan hal-hal yang gaib walaupun memiliki ilmu yang tinggi. Manusia dituntut untuk selalu beriman kepada Tuhan dengan rajin berdoa dan bersyukur kepada Tuhan. Manusia tidak boleh putus asa saat keinginan yang didoakannya belum dikabulkan oleh Tuhan. Hal-hal yang telah terjadi adalah hal-hal dan takdir yang terbaik bagi manusia tersebut. Tiada sekecil yang ada pun yang tidak berharga untuk manusia. Seluruh hal yang ada dan dialami oleh manusia adalah karunia dari Tuhan bagi manusia.


Pertanyaan:
Apakah pendidikan seseorang memengaruhi kepekaannya terhadap hal-hal gaib?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar