Senin, 17 Desember 2012

Refleksi Keenamku



Refleksi Keenamku

Filsafat adalah berpikir reflektif. Semua hal dalam berfilsafat dimulai dari pertanyaan. Pertanyaan yang timbul di setiap benak mahasiswa sebaiknya diajukan dan didiskusikan oleh dosen agar wawasan dan pengetahuan filsafat mahasiswa semakin berkembang. Dosen filsafat pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit, M.A. akan menjawab segala pertanyaan dari mahasiswa. Pertanyaan pertama berasal dari Yulian Angga Pratiwi. Mahasiswa ini menanyakan apakah semua hal di dunia ini memiliki pola. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa segala hal di dunia ini memiliki pola karena Tuhan menciptakan segala hal memiliki pola tetapi terkadang manusia tidak menyadari pola tersebut. Pertanyaan kedua diajukan oleh Rina Susilowati. Mahasiswa ini menanyakan apakah hakekat perbedaan dalam persatuan. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa manusia berbeda-beda dalam banyak hal tetapi dapat bersama dalam satu hal. Manusia itu sama-sama makhluk hidup ciptaan Tuhan, sama-sama akan mati, sama-sama membutuhkan makanan. Namun, manusia itu tidak sama karena terikat terikat oleh ruang dan waktu. Hal ini tergantung masalah apa yang dibicarakan. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. juga menjawab bahwa mimpi adalah sesuatu hal yang terjadi karena kesan yang mendalam. Mimpi dipelajari dalam psikologi. Mimpi sebagai gejala psikologi yang terjadi karena manusia terlalu memikirkan suatu hal sehingga hal yang ia pikirkan terbawa sampai bermimpi.
Pertanyaan selanjutnya berasal dari Ermitasari. Mahasiswa ini menanyakan apakah perbedaan antara cinta dan sayang. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa cinta dan sayang tergantung ruang dan waktu. Cinta dan sayang kontekstual. Manusia tidak dapat mendefinisikan cinta tetapi dapat menunjukkan karakteristiknya. Manusia hanya dapat membedakan cinta dan sayang dengan mempergunakan intuisi. Manusia dapat mengamati hal-hal yang terjadi di sekitarnya dan melihat bagaimana orang-orang di sekitarnya mendefinisikan cinta atau sayang dalam konteks dan kejadian yang seperti apa. Cinta dapat menjadi nama seseorang karena nama merupakan doa dari orang tua. Seseorang yang bernama “Cinta” bersifat kontekstual. Cinta dapat kepada wanita atau pria yang dicintainya, cinta
Selanjutnya, Dwi Kartikasari mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tersebut adalah mengapa hal-hal yang tidak ada tidak termasuk objek filsafat. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa objek-objek yang tidak ada dapat menjadi ada dan dapat dikategorikan menjadi hal-hal yang mungkin ada. Hal ini tergantung ruang dan waktunya. Berfilsafat menjadi berbahaya karena jika sudah masuk ke dalam spiritual, pikiran kita yang sebagian harus dimasukkan ke dalam rumah epoke.
Nurmanita Prima mengajukan pertanyaan yakni apakah hakekat dari guru matematika yang galak. Galak tidak dapat disebut sebagai hakekat karena galak adalah sifat-sifat. Seharusnya, pertanyaan yang benar adalah bagaimana ciri-ciri atau karakteristik guru matematika yang galak. Arlian Bety mengajukan pertanyaan yakni bagaimana cara berkomunikasi dengan seseorang yang enggan berbagi ilmu dengan orang lain. Bahasa digunakan untuk mengomunikasikan sesuatu hal antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Apabila seseorang enggan berbagi ilmu terhadap manusia lain maka hal yang dapat dilakukan adalah mendoakannya saja.
Naafi Awwalunita mengajukan pertanyaan bahwa bagaimana cara seseorang memberikan pemahaman kepada orang lain tentang matematika. Seseorang tidak boleh memberikan pemahaman. Seseorang yang belajar dan ingin mengerti sesuatu hal harus menempatkan dirinya sebagai subjek yang aktif dalam belajar. Ia aktif mengonstruksi sendiri pemikirannya dan belajar terus menerus. Hal ini dapat diibaratkan sebagai sebuah biji yang tumbuh menjadi tunas dan lama kelamaan menjadi pohon yang berbuah manis. Setiap harinya, manusia belajar membentuk sebuah skema tentang konsep materi yang lama kelamaam akan menjadi besar dan utuh. Guru sebaiknya tidak hanya memberikan pemahaman kepada siswa tetapi harus menempatkan siswa sebagai subjek dalam kegiatan pembelajaran. Guru memfasilitasi siswa agar belajar dan aktif bertanya.
Pertanyaan selanjutnya dari Felisitas Sayekti. Mahasiswa ini menanyakan apakah hal-hal yang menyebabkan krisis multidimensi di Indonesia. Hal-hal yang menyebabkan krisis multidimensi di Indonesia adalah karena guru hanya memberikan pemahaman kepada siswa tanpa mampu memfasilitasi siswa untuk belajar secara aktif. Mahasiswa ini juga menanyakan mengapa orang sukar untuk memelajari filsafat. Filsafat sukar dipelajari karena mengandung bahasa analog dan dalam berfilsafat dibutuhkan cara berpikir reflektif dan intensif. Berfilsafat harus secara terus menerus. Objek dalam berfilsafat adalah sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Oleh karena itu, filsafat memang tidak mudah untuk dipelajari.
Beberapa pertanyaan lain dari mahasiswa belum sempat terjawab karena keterbatasan waktu. Kami sebagai mahasiswa pendidikan matematika sangat berterima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. karena telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami sehingga kami dapat menambah ilmu dan wawasan kami terkait filsafat pendidikan matematika.

Pertanyaan:
Mengapa ada manusia yang selalu tidak pernah merasa puas terhadap segala yang ia miliki?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar