Refleksi
Keenamku
Filsafat adalah
berpikir reflektif. Semua hal dalam berfilsafat dimulai dari pertanyaan.
Pertanyaan yang timbul di setiap benak mahasiswa sebaiknya diajukan dan
didiskusikan oleh dosen agar wawasan dan pengetahuan filsafat mahasiswa semakin
berkembang. Dosen filsafat pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit,
M.A. akan menjawab segala pertanyaan dari mahasiswa. Pertanyaan pertama berasal
dari Yulian Angga Pratiwi. Mahasiswa ini menanyakan apakah semua hal di dunia
ini memiliki pola. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa segala hal di
dunia ini memiliki pola karena Tuhan menciptakan segala hal memiliki pola
tetapi terkadang manusia tidak menyadari pola tersebut. Pertanyaan kedua
diajukan oleh Rina Susilowati. Mahasiswa ini menanyakan apakah hakekat
perbedaan dalam persatuan. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa
manusia berbeda-beda dalam banyak hal tetapi dapat bersama dalam satu hal.
Manusia itu sama-sama makhluk hidup ciptaan Tuhan, sama-sama akan mati,
sama-sama membutuhkan makanan. Namun, manusia itu tidak sama karena terikat
terikat oleh ruang dan waktu. Hal ini tergantung masalah apa yang dibicarakan.
Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. juga menjawab bahwa mimpi adalah sesuatu hal
yang terjadi karena kesan yang mendalam. Mimpi dipelajari dalam psikologi.
Mimpi sebagai gejala psikologi yang terjadi karena manusia terlalu memikirkan
suatu hal sehingga hal yang ia pikirkan terbawa sampai bermimpi.
Pertanyaan selanjutnya
berasal dari Ermitasari. Mahasiswa ini menanyakan apakah perbedaan antara cinta
dan sayang. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa cinta dan sayang
tergantung ruang dan waktu. Cinta dan sayang kontekstual. Manusia tidak dapat
mendefinisikan cinta tetapi dapat menunjukkan karakteristiknya. Manusia hanya
dapat membedakan cinta dan sayang dengan mempergunakan intuisi. Manusia dapat
mengamati hal-hal yang terjadi di sekitarnya dan melihat bagaimana orang-orang
di sekitarnya mendefinisikan cinta atau sayang dalam konteks dan kejadian yang
seperti apa. Cinta dapat menjadi nama seseorang karena nama merupakan doa dari
orang tua. Seseorang yang bernama “Cinta” bersifat kontekstual. Cinta dapat
kepada wanita atau pria yang dicintainya, cinta
Selanjutnya, Dwi
Kartikasari mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tersebut adalah mengapa hal-hal
yang tidak ada tidak termasuk objek filsafat. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A.
menjawab bahwa objek-objek yang tidak ada dapat menjadi ada dan dapat
dikategorikan menjadi hal-hal yang mungkin ada. Hal ini tergantung ruang dan
waktunya. Berfilsafat menjadi berbahaya karena jika sudah masuk ke dalam
spiritual, pikiran kita yang sebagian harus dimasukkan ke dalam rumah epoke.
Nurmanita Prima
mengajukan pertanyaan yakni apakah hakekat dari guru matematika yang galak.
Galak tidak dapat disebut sebagai hakekat karena galak adalah sifat-sifat.
Seharusnya, pertanyaan yang benar adalah bagaimana ciri-ciri atau karakteristik
guru matematika yang galak. Arlian Bety mengajukan pertanyaan yakni bagaimana cara
berkomunikasi dengan seseorang yang enggan berbagi ilmu dengan orang lain. Bahasa
digunakan untuk mengomunikasikan sesuatu hal antara manusia yang satu dengan
manusia lainnya. Apabila seseorang enggan berbagi ilmu terhadap manusia lain maka
hal yang dapat dilakukan adalah mendoakannya saja.
Naafi Awwalunita
mengajukan pertanyaan bahwa bagaimana cara seseorang memberikan pemahaman
kepada orang lain tentang matematika. Seseorang tidak boleh memberikan
pemahaman. Seseorang yang belajar dan ingin mengerti sesuatu hal harus
menempatkan dirinya sebagai subjek yang aktif dalam belajar. Ia aktif
mengonstruksi sendiri pemikirannya dan belajar terus menerus. Hal ini dapat
diibaratkan sebagai sebuah biji yang tumbuh menjadi tunas dan lama kelamaan menjadi
pohon yang berbuah manis. Setiap harinya, manusia belajar membentuk sebuah
skema tentang konsep materi yang lama kelamaam akan menjadi besar dan utuh.
Guru sebaiknya tidak hanya memberikan pemahaman kepada siswa tetapi harus
menempatkan siswa sebagai subjek dalam kegiatan pembelajaran. Guru
memfasilitasi siswa agar belajar dan aktif bertanya.
Pertanyaan selanjutnya
dari Felisitas Sayekti. Mahasiswa ini menanyakan apakah hal-hal yang
menyebabkan krisis multidimensi di Indonesia. Hal-hal yang menyebabkan krisis
multidimensi di Indonesia adalah karena guru hanya memberikan pemahaman kepada
siswa tanpa mampu memfasilitasi siswa untuk belajar secara aktif. Mahasiswa ini
juga menanyakan mengapa orang sukar untuk memelajari filsafat. Filsafat sukar
dipelajari karena mengandung bahasa analog dan dalam berfilsafat dibutuhkan
cara berpikir reflektif dan intensif. Berfilsafat harus secara terus menerus.
Objek dalam berfilsafat adalah sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Oleh karena
itu, filsafat memang tidak mudah untuk dipelajari.
Beberapa pertanyaan
lain dari mahasiswa belum sempat terjawab karena keterbatasan waktu. Kami
sebagai mahasiswa pendidikan matematika sangat berterima kasih kepada Bapak
Prof. Dr. Marsigit, M.A. karena telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami
sehingga kami dapat menambah ilmu dan wawasan kami terkait filsafat pendidikan
matematika.
Pertanyaan:
Mengapa ada manusia yang selalu tidak
pernah merasa puas terhadap segala yang ia miliki?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar