Selasa, 18 Desember 2012

Refleksi Ketujuhku


Refleksi Ketujuhku

Filsafat adalah berpikir reflektif. Semua hal dalam berfilsafat dimulai dari pertanyaan. Pertanyaan yang timbul di setiap benak mahasiswa sebaiknya diajukan dan didiskusikan oleh dosen agar wawasan dan pengetahuan filsafat mahasiswa semakin berkembang. Dosen filsafat pendidikan matematika kami yakni Prof. Dr. Marsigit, M.A. akan menjawab segala pertanyaan dari mahasiswa. Pertanyaan pertama berasal dari Lina Dwi Aris. Mahasiswa ini menanyakan apakah hakekat angin. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa objek dalam berfilsafat adalah berdimensi. Dimensi yang paling primitif dalam filsafat adalah intuisi. Intuisi adalah hal-hal yang tidak tahu sejak kapan manusia mengetahuinya seperti sejak kapan manusia mengetahui enak, cantik, membedakan besar dan kecil, dan lain-lain. Definisi tidak akan pernah tepat menggambarkan sebuah intuisi. Manusia berinteraksi dengan orang tua dan teman sehingga akan membentuk intuisi. Intuisi menyebabkan manusia dapat mengkategorikan hal-hal yang ia pelajari. Kategori terbentuk dalam pikiran manusia. Immanuel Kant mengkategorikan objek-objek dan teorinya tersebut digunakan kembali oleh manusia lain untuk mengkategorikan suatu benda. Dimensi dalam filsafat adalah secara formal, normatif, material, dan spiritualitas. Angin memiliki bentuk formal yakni angin ribut, topan, dan lain-lain. Bentuk normatif dan spiritualnya tidak ada sehingga hakekat angin hanya terbatas pada pengetahuan formal saja. Angin termasuk pengertian intuitif empiris. Pertanyaan kedua diajukan oleh Eka Budhiarti. Mahasiswa ini menanyakan apakah hakekat dari perceraian. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa bentuk formal dari perceraian termuat dalam Undang-Undang Perkawinan. Bentuk normatif dari perceraian yakni tentang baik-buruk, benar-salah, dan lain-lain. Perceraian juga memuat bentuk spiritual karena termuat dala Kitab Suci.
Pertanyaan selanjutnya berasal dari Nurmanita. Mahasiswa ini menanyakan apakah yang harus didahulukan dalam sebuah rumah tangga, memberikan bantuan kepada pasangannya atau orang tua. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa hal yang perlu didahulukan adalah komunikasi. Setiap manusia membutuhkan komunikasi agar segala sesuatu berjalan seimbang dan tidak terjadi masalah yang tidak diharapkan.
Selanjutnya, Cony Devilita mengajukan pertanyaan. Pertanyaan tersebut adalah apakah kepercayaan dan keyakinan dalam beragama. Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. menjawab bahwa ada bentuk-bentuk yang berkembang. Suatu kata dapat mengalami reduksi dan ekstensi. Reduksi terjadi seperti kata bekas yang hanya digunakan untuk benda mati dan kata mantan untuk makhluk hidup. Aliran kepercayaan dan keyakinan sebelumnya dicampuradukkan. Kepercayaan dan keyakinan sejajar dan berdampingan. Kepercayaan naik tingkat ke dalam bentuk formal karena termuat dalam Undang-Undang. Kepercayaan juga memiliki bentuk spiritualnya.
Rudi Prasetyo mengajukan pertanyaan yakni bagaimana cara mengatasi kekalahan agar tidak semakin terpuruk. Manusia harus selalu berdoa dan berusaha. Agar tidak terpuruk dalam berfilsafat, mahasiswa hendaknya rajin membaca elegi dan memahaminya dengan memberikan komentar-komentar. Berfilsafat tidak hanya mengejar nilai tetapi pada banyaknya membaca elegi dan membuat komentar.
Rina Susilowati mengajukan pertanyaan yakni bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal. Hal-hal dalam berfilsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada dapat dipakai untuk menumbuhkan motivasi. Manusia seharusnya bersyukur karena memiliki alat tubuh yang lengkap dan tidak kekurangan suatu apapun. Ia harus mengetahui bahwa di luar sana masih banyak manusia lain yang tidak memiliki alat tubuh yang lengkap tetapi tetap dapat bersyukur kepada Tuhan. Kesempatan seharusnya diraih karena tidak akan dating dua kali. Komunikasi juga patut dikembangkan agar mampu menumbuhkan semangat.
Tri Wahyuni mengajukan pertanyaan bahwa mengapa ada pro dan kontra dan apa penyebabnya. Hal ini terjadi karena merupakan ciptaan Tuhan bahwa pasti dalam hidup ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam hati adalah godaan setan. Pertanyaan selanjutnya adalah hakekat dari perubahan. Perubahan merupakan hal yang dipelajari secara intuisi oleh manusia. Manusia tidak memerlukan definisi perubahan.
Pertanyaan berikutnya dari Junia Indri yakni apa yang disebut dewa. Dewa tergantung ruang dan waktunya. Setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi dewa. Dewa berdimensi tetapi ada hal yang tidak dapat dikalahkan adalah usia. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara membedakan hasil berpikir filsafat dan hasil telaah. Hasil berpikir filsafat dan telaah dibedakan berdasarkan kerangkanya. Berfilsafat itu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Berpikir filsafat adalah pikiran para filusuf. Berpikir filsafat juga intensif dan ekstensif yang menyebabkan memiliki sudut pandang yang banyak dalam berfilsafat.
Pertanyaan dari Ermitasari adalah mengapa banyak gejala alam yang semakin kompleks. Bagi para orang tua, gejala alam justru semakin sederhana karena sudah mengalami lupa/pikun. Bagi manusia yang masih remaja, kekompleksan merupakan bukti bahwa makin banyak yang ia mengerti. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah hal-hal yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan. Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada adalah sebagian dari ciptaan Tuhan. Masih banyak hal lain yang merupakan ciptaan Tuhan yang belum diketahui oleh manusia. Manusia tidak boleh beranggapan bahwa ia mengetahui segalanya karena manusia pasti tidak akan mampu mengetahui segala ciptaan Tuhan. Manusia jangan hanya berkutat dan sibuk pada ciptaannya sendiri tetapi juga pada hal-hal lain yang ada. Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada harus selalu disyukuri dan manusia harus selalu memohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat.
Beberapa pertanyaan lain dari mahasiswa belum sempat terjawab karena keterbatasan waktu. Kami sebagai mahasiswa pendidikan matematika sangat berterima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Marsigit, M.A. karena telah menjawab pertanyaan-pertanyaan kami sehingga kami dapat menambah ilmu dan wawasan kami terkait filsafat pendidikan matematika.

Pertanyaan:
Mengapa ada manusia yang tidak pernah merasa puas pada segala sesuatu yang telah ia miliki?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar