Kamis, 15 September 2011

Review 4


The Iceberg Approach of Learning Fraction in Junior High School : 
Teacher`s Simulations of Prior to Lesson Study Activities
By Marsigit, Yogyakarta State University, Indonesia

Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri
Yogyakarta
(http://felisitassayekti.blogspot.com)

Kompetensi minimum yang harus dimiliki oleh siswa dalam materi matematika meliputi kompetensi afektif, kognitif dan psikomotor. Dalam memecahkan masalah, siswa perlu kreatif untuk mengembangkan banyak cara dan alternatif model matematika serta memperkirakan hasilnya. Pendekatan kontekstual dan realistis direkomendasikan untuk dikembangkan oleh guru untuk mendorong pemikiran matematika di sekolah dasar. Untuk membuat kegiatan belajar mengajar lebih efektif, guru juga perlu mengembangkan sumber daya seperti teknologi informasi, alat bantu pengajaran dan media lainnya.
Agar mudah dipahami oleh siswa, matematika harus realistik, dekat dengan anak dan relevan dengan setiap situasi kehidupan sehari-hari. Pendekatan Iceberg sebagai titik awal urutan belajar yang memberikan pengalaman nyata kepada siswa sehingga mereka terlibat langsung dalam kegiatan matematika pribadi. Dalam rangka untuk memanfaatkan pengetahuan matematika siswa, pendekatan ini harus digunakan melalui potensi belajar urutan.
Dalam kegiatan mengajar guru perlu: memastikan bahwa siswa telah menguasai keterampilan prasyarat untuk tugas-tugas yang harus dipelajari sebagai bagian dari agenda tatap muka (misalnya siswa harus mengetahui hubungan antara pecahan, decimal dan persen), memperkenalkan instruksi keterampilan dengan demonstrasi singkat dan jelas mengenai tugas yang akan diberikan,  memperkenalkan instruksi menggunakan bahan beton (manipulatif) sebelum melanjutkan ke bahan semi-beton (representasi piktorial), dan masalah abstrak (representasi numerik), contoh-contoh pengajaran guru harus termasuk kesempatan berlatih yang cukup untuk menghasilkan tugas penguasaan, memastikan bahwa contoh-contoh pengajaran termasuk variasi dari semua jenis masalah untuk menghindari siswa membuat generalisasi yang salah, memberikan instruksi sistematis tentang diskriminasi antara jenis masalah yang berbeda yang dirancang untuk memungkinkan siswa mengetahui solusi yang cocok, menyediakan kegiatan praktek yang dipandu oleh guru.
Pengertian formal pecahan, hubungan dan operasi datang sejalan dengan kecenderungan berbagi konsep ide dan konsep pecahan melalui kelompok kecil diskusi. Para siswa akan menemukan minat mereka ketika mereka mendapatkan pemahaman yang jelas dari pengertian pecahan. Para guru percaya bahwa pencapaian akhir siswa adalah saat mereka merasa memiliki konsep matematika yang telah mereka temukan sendiri. Para siswa akan memiliki kapasitas yang penting untuk solusi yang lebih canggih untuk masalah matematika.
Banyak guru membawa banyak pemahaman informal pecahan untuk usaha mereka dalam
mengembangkan
model gunung es untuk mengajar pecahan. Dalam mengembangkan model pengajaran gunung es, para guru diharapkan memiliki kecenderungan siswa mereka akan mempertimbangkan pecahan tidak hanya sebagai angka keseluruhan, tetapi juga proporsi atau bilangan rasional. Meskipun model gunung es memperkuat siswa untuk membangun konsep-konsep mereka sendiri mengenai pecahan, masih terdapat kesulitan bagi siswa untuk memecahkan masalah secara simbolis. Namun, mereka mampu untuk memecahkan masalah yang sama dalam konteks situasi dunia nyata. Sebagian besar guru mengakui bahwa representasi pecahan menjadi tugas yang sangat abstrak dan sulit bagi siswa. Sementara itu, mereka juga menemukan bahwa model gunung es adalah pendekatan yang sangat penting dan berguna untuk mengajar pecahan di SMP.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar