DEVELOPING MATHEMATICS EDUCATION
IN INDONESIA
Presented at
The DSME Seminar of Mathematics Education
Department of Mathematics and Science Education
Faculty of Education, University of Melbourne
May 28, 2004, room 706 at 2:15
By Marsigit
Faculty of Mathematics and Science,
the State University of Yogyakarta, Indonesia
Review oleh: Felisitas Sayekti Purnama U (09301241007)
Pendidikan Matematika Subsidi 2009 di Universitas Negeri Yogyakarta
Selama ini, penelitian menunjukkan bahwa prestasi anak dalam mata pelajaran matematika rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil Ujian Nasional dari tahun ke tahun. Penelitian juga menunjukkan bahwa terjadi ketidakcocokan antara tujuan pendidikan, kurikulum, dan sistem evaluasi . Dalam mempersiapkan guru-guru Sekolah Dasar dan Menengah, Indonesia menghadapi masalah bahwa input untuk LPTK memiliki potensi akademis yang rendah dan LPTK swasta dengan kualitas rendah juga memproduksi Matematika dan Sains. Kualifikasi guru matematika perlu ditingkatkan. Sebagian besar guru matematika masih memiliki banyak kelemahan dalam kurikulum, pendekatan pengajaran, sarana pembelajaran dan buku teks, dan penilaian.
Proyek kerjasama teknis JICA dalam Pengembangan Ilmu Pengajaran dan Pendidikan Matematika di Indonesia (IMSTEP) sejak 1 Oktober 1998 dilakukan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dan Universitas Negeri Malang (UM).Tujuan dari uji coba adalah untuk memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendidikan matematika dan sains di sekolah dengan mencoba beberapa hal yang dikembangkan dalam proyek ini yang langsung berhubungan dengan sekolah. Kegiatan uji coba dilakukan melalui penelitian tindakan kelas antara dosen dan guru kolaboratif. Hasil uji coba dapat disebutkan dari sudut pandang siswa, guru, dan dosen. Sebagian besar siswa di kelas masing-masing antusias dalam pembelajaran menggunakan media baru, metode, pendekatan atau motivasi siswa untuk belajar matematika dan sains juga ditingkatkan. Guru yang terlibat dalam kegiatan uji coba ini dikembangkan kompetensi mereka dalam mengajar matematika dan ilmu pengetahuan, harus berpikir dan mengembangkan cara-cara baru tentang bagaimana untuk membiarkan siswa belajar dan membangun konsep sendiri, dan metode mengajar menjadi “student oriented”.
Ada beberapa masalah yang berhubungan dengan memperkenalkan paradigma baru pengajaran matematika dan ilmu pengetahuan melalui kegiatan piloting. Gaya mengajar guru tidak dapat berubah secara drastis dalam program jangka pendek. Untuk menanggulanginya, pemerintah Indonesia menerapkan kurikulum baru yakni kurikulum berbasis kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Hasil pemantauan uji coba kurikulum baru di beberapa provinsi menunjukkan bahwa kendala masih berasal dari masalah imanen yakni : motivasi guru dan kompetensi untuk mendukung sistem manajemen pendidikan masih sangat kurang. Untuk masa yang akan datang, guru matematika diharapkan memiliki motivasi dan kompetensi yang besar sehingga kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan dengan baik dan pendidikan matematika di Indonesia menjadi lebih maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar